Selamat Datang Kawan di WebBlog Para Pembebas

Uncategorized

SOSIAL HUBUNGAN PRODUKSI (Tulisan ke DUA)


“……. Mengubah) adalah DIALEKTIS HISTORIKAL, karena ADA TUJUAN, yang Tidak Individualisme (Perlakuan). Benda yang Kebutuhan (jangan baca langsung “Butuh Kebendaan”), meskipun perlu Alat juga, Alat alat/ Peralatan. Secara Ekonomi – Ilmiah/Ke – Ilmu – an dan Pengetahuan, Industrialisasi

Inilah, salahsatu Pembentuk Theori Sosialisme (Engels, Friedrich), dan Non Difinitif, tetapi berkembang sesuai Perubahan yang terjadi.” SOCIALISTA !!!

<Tunda

3.

MATERIALISME yang Historikal selain Ajuan Kebebasan EKONOMISASI ke PRODUKTIE, mengacukan juga Hubungan KEMANUSIAAN – Uang atas Benda dalam Pemenuhan Kebutuhan, didasarkan suatu HAKNYA. TENAGA !!!

Tenaga adalah EKONOMIS. U-P-A-H = GERAK PRODUKSI (Tenaganya). Bekerja ke Pencapaian Laba (Profitasi)

MANUSIA YANG BEBAS = KERJA. Terjemahan DEMOKRASI (Kekuasaan) ke Pelaksanaan . KEMANUSIAAN SOSIAL Pusat Ekonomisasi

<Tutup

SELESAI. Terima kasih


KECURIGAAN PERSATUAN NASIONAL


KECURIGAAN

DAN

SUATU PERSATUAN NASIONAL

SEBAGAI Penerusan semua Ajaran KIRI, tentu KAMI mencurigai “yang di Dalam” (= mereka. Pembalikan) tidak suka Pemahaman Ajarannya dan Anggota Partai

 

2 Alasan ini

 

1. Tarung antar Politik, namun tidaklah mungkin bersifat luas (Gerakan, Partai, Organisatif)

 

2. Beda Pemikiran (apa !?!). MEMBAHAYAKAN ke Nasional … ! KIRI – Sosialisme adalah berdasarkan Pikiran pikiran (Dialektika Materialisme)

 

Alasan Pertama dan alasan Kedua berhubungan. Maksud, Laga Politik (Isme) tdk mungkin tdk memakai Pemikiran, MAKA terjadi PERBEDAAN Berpikir. Lalu, yang manakah KIRI dan yang manakah Individualisme ?

 

Karena, Gerakan gerakan Rakyat dan DEMOKRATIK. Perjuangan BURUH dan Partai – Aksi Massa ke Tujuan untuk Membentuk Masyarakat Sosialisme, didasarkan BERPIKIR Materialisme Logik – Ideologisasi Kerakyatan, HAK REVOLUSI Para DEMOKRATIK ke Politik Rakyat Miskin dalam Masyarakat dengan Syarat syaratnya

 

1. Kelas (Tenaga, suatu HAK Azasi Manusia) BURUH

 

2. REVOLUSI (HAK = DEMOKRATIK)

 

a. Politik (Sistim) Rakyat

b. Revolusi = Bersama (Kepentingan)

c. Sosial Ekonomik. Pemenuhan

 

3. Kekuasaan ‘RAKYAT MISKIN” (dalam semua Istilah – Bahasa)

 

……. SOSIALISTA !

……. DEMOKRATIK !

……. NASIONAL !

 

 

 

SEKIAN. TERIMA KASIH


ANALYSA KESENIAN PROGRESSIF


ANALYSA

KESENIAN RAKYAT SUATU

“LEMBAGA”

KESENIAN (Rakyat) adalah Lembaga, yang Terbentuk. Budaya, Sistim Masyarakat. Melakukan “Perbuatan”. Berdasarkan Pemikiran ke HAKNYA (= Kuasa, Nilai. Baca, Sosial HAK)

 

– Kepribadian (Didikan, Ideologika)

– Masyarakat/Kemasyarakatan (Proses)

– RASA (Kebenaran, Ajaran)

 

Hubungan (Perlakuan) antara Manusia ke manusia, Sosial – Alamnya

 

Dalam Pembentukan Masyarakat. Menuju, yang diharapkannya. Utopia ke Materialisasi (Politik). Logika (atas) Batin . Dialektis. Thesika – “Alam (di Pikirannya”)

 

Perjuangan (= Kelembagaan ?) Masyarakat suatu Gerakan gerakan Kekuasaan Rakyat

 

1. Tradisionakl (isasi)

 

2. Kebaruan

 

3. Serikat

 

4. Perbuatan (Bentuk bentuk Juang. REVOLUSIONER)

 

– Pengubahan. Cara ke Hasilnya

– Thesikalisasi (Materialisme)

– Pelembagaan. Nilai, Kesetaraan

 

5. Kemampuan kemampuan Seni

 

<Jeda

 

 

 

Rangkaian Pergerakan Rakyat Tertindas. Lalu, mengadakan Perlawanan Terjemahan Keadaannya MEMBEBASKAN DIRI (Hak Azasi Manusia – HIDUP). Menciptakan (Zamani). Rasa, Perbuatan – Karsa Berkebudayaan = NASIONAL (“Isme”). SETIA dalam Tujuan. Berani

 

Melalui,

 

– Bahasa, Pembahasaan. Suara

– Gerakan, Tubuhnya – Olah

– CIPTA, Material (Wadahan)

 

Zaman Kemanusiaan Baru dalam Peradabannya. Pun Kebangsaan (suatu Masyarakat. “Membentuk. Masyarakat Sosialisme). Adalah, Politik RAKYAT MISKIN

 

<Tutup

TERIMA KASIH. SOSIALISTA !


TULISAN KHUSUS : ANTARA DOGMATIKA DAN LOGIKA


ANTARA DOGMATIKA DAN LOGIKA (Pembahasan Suntingan)

 

 

ANTARA Dogmatika dan Logika dalam Dialektika Materialisme. Yang dihubungkan dengan Ajaran Kerakuyatan, mengantarkan Perubahan (di) suatu Negara berdasarkan DEMOKRATIK HAK REVOLUSI

 

Tuan tuan, salahsatu Pemikir di Indonesia (tanpa Penyebutan Nama) MENYATAKAN

 

“… Amerika suka menanamkan Modalnya di Indonesi, tetapi hanya di Perusahaan perusahaan yang … segera menghasilkan Keuntungan … langsung, … dalam Perusahaan Minyak, semua Tambang Minyak … Monopoli ..

“Karena, Imperialisme … tak akan … mendekati Rakyat Indonesia … memberikan Konsesi Politik … Ekonomi, harus melakukan Politik Biadab YANG LAMA …

“… Penderitaan … Buruh Industri, … karena TAK ADA INDUSTRI NASIONAL, Perdagangan Nasional, … BENTROKAN (Baca, dibenturkan = Dialektika) antara Imperialisme dan Rakyat INDONESIA, tak seorang (= Manusia) Indonesia pun akan kehilangan HAKNYA …”

(MENUJU REPUBLIK INDONESIA, 1925)

 

Tuduhan Dogmatika KIRI (Ketentaraan ? ke) “Negara” dibantah. Strategikalisasi Pemikiran ini MEMBERLAKUKAN LOGIKA. Dari Pemusatan ke OFENSIF … REVOLUSIONER

 

“… bertimbun … Buruh Industri dan Petani melarat, yang … MEWUJUDKANKAN TENAGA TENAGA (Ini lah, Pembentukan KELAS, Tuan) … syarat syarat … Ekonomi

mempertahankan .., KEMENANGAN Politik … yang moderen … jika … MEMILIKI KEKUASAAN EKONOMI …”

 

Maksud Pemusatan adalah KEKUASAAN – Perang untuk MERDEKA suatu PEMBEBASAAN dalam Terjemahan Sosial Ekonomi Politik

 

“… kesimpulan, bahwa KITA … menentukan Strategi … BERTAHAN … sebagai Basis basis … Republik Indonesia.”

Materialisasi Logika Dialektis Ekonomisasi (= Politik) suatu PERTAHANAN INDONESIA MERDEKA (MANIFESTO JAKARTA, 1945)

 

“… Indonesia … di Masa Depan … akan meng – ada – kan Hasil yang Tiada Ternilai Harganya di Pasar Dunia seperti Minyak Tanah, … Emas … dan lain sebagainya. … Republik Indonesia bisa mendapatkan Mesin, yang dibutuhkan. … untuk Kemerdekaannya. Kemerdekaan … berdasarkan Industri … Sebaliknya Industri … berdasarkan Kemerdekaan pula. … Industri yang … penting untuk KEHIDUPAN DAN PERTAHANANNYA

 

PERTAHANAN INDONESIA MERDEKA

 

“… untuk MEMPERTAHANKAN REPUBLIK INDONESIA … :

 

1 & 2. Persatuan … Rakyat. Persatuan terhadap serangan dari dalam maupun dari luar Negara. Persatuan ini dapat diselenggarakan … Partai …

Kemerdekaan yang penuh … sama … dengan Persatuan … menjalankan ekonomi yang teratur … kekokohan … Indonesia Merdeka

3. Jangan dibolehkan Modal Aasing … menyewa Tanah dan MENGUASAI BAHAN … Tanah – Produksi – Distribusi harus DIKUASAI … NEGARA

4. Ekonomi … dikendalikan (diatur) … dan terencana … “Tidaklah susah untuk Indonesia Merdeka untuk memimpin majikan Bumiputera kearah Kolektivisme dan ekonomi terencana, yang mengatur Hak Milik, Penghasilan, Pembagian Hasil, Upah dan Hidup Sederhana.” (Kutipan)

 

Sehingga, Kawan ! Dan, Progresif Nasionalist …

 

“Walaupun Amerika menamai dirinya demokratis, buat kita tak kurang bahayanya … (SEMANGAT MUDA, 1926). … Boleh jadi pada waktu paling di muka ini berjuta-juta modal Amerika akan masuk ke Indonesia …

“Kalau kita bisa mempersatukan seluruh Indonesia (Isme – Nasional ke Persatuan Rakyat Indonesia) dan … kita bisa memikirkan merebut kemerdekaan dan barulah bisa mempertahankan kemerdekaan itu terhadap … Amerika.”

“Berhubung dengan hal diatas, maka Revolusi Indonesia kelak akan berbeda … Revolusi Indonesia tiadalah akan semata-mata untuk menukar kekuasaan … dengan kuasaan bumi putera (Peperangan Kemerdekaan bangsa), tetapi juga untuk … KEKUASAAN … Buruh Indonesia (putaran-sosial).”

 

TERIMA KASIH. SOSIALISTA !

 

 


GREEN (AND) LEFT MOVEMENTS


NYARIS Perjuangan Internasional “Hijau” di Dunia tanpa Keputusan keputusan apapun. Hanya Isu isu “Bukan Gerak” Aksi. Pembentukan Kemanusiaan – Lingkungan

 

Mengapa ? Karena, berhubungan dengan Tanah, matarantai Alam Ekologi ke Pangan, dan Negara (Baca, Kekuasaan dalam Putusan). Terpakai Keuangan (Ekonomikal) untuk “Pengubahan” Alam, yang akan dipersiapkan

 

Politik dan Kekuatan mengatasi Rancang Gerak Tempat. Falsafati. Industrialisme = Produksi. Re – Aksi  Alam – Sumber. Atas Hasilnya (Guna). Peranan Tanggung jawab Bernegara. Perbuatan dan Dialektika

 

– Pengelolaan = Strategika Alam

– HAK ke Manfaati Alam

– Masalah Kehancuran Alam

 

Pernyataan dan Sikap berdasarkan Alasan alasan Hubungan Gerakan gerakan Hijau (ke) Pemerintahan. Terpolitisasi. Idealisme ke Progressif. Merangkai Aksi (= Politikal), Massa

 

1. Menyampaikan Ajuan Keseimbangan (Ekologi)

 

2. Melakukan (Program, Kegiatan kegiatan)

 

3. Membuat = Kemampuan/Daya “Pengubah”

 

Rasionalisme Politik suatu Saluran saluran “Daerah” (Teritory) membangun Idealisme Lingkungan. Tetapi, bukan jadi Ultra Kanan. Bertarung antara Pimpinan – “Kekuatan (di”) Bawah digerakkan. Sambungan Negatif , walaupun Kanan juga berniat = Taktis – Aktif, “Kepentingan Program Hutan” (Forrests) ke Perang – Distrikasi Ekonomi

 

<Jeda

 

 

 

Alam (Tanah, Air dan Udara) merangsang MIliter — yang tidak wajib warna hijau — dalam Kepentingan kepentingan Tempur Udara ke Darat – Lautan, berwewenang untuk “memakai” Keseimbangan Ruang Defensita) membutuhkan Pangan, Material – Alat, mencapai Tahapan ke tahapan, akan merusak sekali-gus membangun (= Kesementaraan “Perintah”)  Alami

 

Kedua masalah di atas, bergantung pada Kependudukan, “Orang Negara” = Sosial. Ekonomi ke Politisasi (Kanan). Dan, Kekuasaan Ekonomi Sumber sumber Eksploratif – Militer (Komando) Produksi Alat alat Peperangan (Ketentaraan). TERSERAP PEKERJA (Thesiiska Alam)

 

Sosialis telah lama paham Situasional berkelanjutan itu. Bersumber dari Perjuangan Buruh. Ke Strategikalisasi. Kesepakatan Hijau – Sistim

 

Gerakan gerakan yang “KIRI” dalam Terjemahan ISME – nSosial di Bumi, dan diarahkan Memperjuangkan HAK (manusia = “Alam Berpusat”, Akalnya) . Bukan Penghasutan !!! HAK Alam = Tanahnya … Kehidupannya (Udara, Air)

 

Beberapa Pembahasan (Multi Dialog Bahasa), antara lain

 

Thematikalisasi HAKNYA atas Alam (“di”) Bumi

 

Thematikalisasi Industrialisme Lingkungan ke Penghidupan

 

Thematikalisasi HIDUP dalam Pembentukan  Masyarakat

 

Tampak sungguh Politis dilihat dari Isme = Kegiatan kegiatan Program. Re – Evolusi. Gerak Hidup Alam. Berlaku Sosial Kekuasaan = Pemikiran Zaman Manusia. MEMBEBASKAN PENGUASAAN “DUNIA KAMI”

 

<Tunda

 

 

 

LEFT, AND MOVEMENTS

 

Tani dan Produksi berhubungan dengan Alam (ke Lingkungan) menerjemahkan Pikiran pikirannya ke Rasionalisme – Hidupnya ke Penghidupan (bentukan, jaringan) = Kehidupan

 

Kesatu, PERSAUDARAAN (Wilayah = Komunal. Daratan

 

Kedua, Keseimbangan Alam – Perlakuan “Sistim Edukasi” Genetikak

 

Ketiga, Peradabannya (Kebudayaan)

 

Bentuk bentuk Tanam, yang jjelas Menghasilkan = Kerja, Teknologika (Kebaruan, Waktu. Agar,, dibaca Pengalaman)

 

Pertanian, Lahan (Padi, Gandum/Roti)

Hutan/Kayu dan Kebun kebun

Lautan, Eksploitasi – Mineral (Tumbuhan, “Unsur”)

Simbiotika Natural Materi materi di Luar (Kosmis = Azaly = Tanah ? Besi)

Tanaman ke Farmakologika Obat (atas Racun)

 

Namun, ada Reksiko. Berdampak. Bagaimanakah akan menyelesaikan ? KAMI RAKYAT MISKIN terlepas dari Kenyataan, yang ditanggung Manusia (Badannya = “Lahir) Sosial” Kehidupan

 

<Titik

 

 

 

POLITIK

= DASAR (KAH ?)

LINGKUNGAN

 

Saudara saudaraku, …

Tuan tuan Pembicara, …….

dan Pembaca, …..

 

Politik = Kepentingan kepentingan. Bernegara. Apakah :Negara” itu ? Wilayah/Daerah (= Alam) . Ke Organisasi = Kenegaraan. Tanah, Pemilikan Masyarakat (dalam) Kepemimpinan

 

MENYELENGGARAKAN KEPENTINGAN KEPENTINGAN ADALAH SUATU IDEOLOGISASI (DI) NEGARA. Strategika ke Program program. Sedangkan  Pelaksanaan Gerakan Lingkungan itu apa ?!?

 

<Titik

 

 

 

Dua Kepentingan Rakyat memperjuangkan  (Terbaca Perlawanan). Pertama, KEMANUSIAAN = Sosialisme berhubungan dengan Pemenuhan Dasar. Lahan (Alam) , Air. Ke Pangannya

 

– Menghindari – Cegah Pengrusakan (Individualisasi)

– “Membagi” (Tanah, Kependudukan). Pentaaan

– Mempersiapkan Perlindungan, Seimbangan Harmonisasi

 

Kedua, Thesikalisasi Logik Alam. Ke Produksi. Berlangsung. Tahapan tahapan Revolusioner. KEBARUAN (Waktu – Ubah) merangkai Pemikiran = Kemutlakan – Semesta

 

Contoh, Susun Bangun Kuasa. Evolutif. Kehendak, Materialisme (‘Form”)

 

– “Tujuan Alam” (= GERAKNYA)

– Manfaat (Filosofika). Kegunaan

– Sosial ke Pertahanan Manusia

 

<Titik

 

— oOo —

 

 

 

Kekuasaan YANG HIDUP terhadap Alam (Buatan) ke Politik. M(aterialisasi = Gerak. Utopis ?). POLITIK RAKYAT MISKIN. Perjuangan Kepentingan kepentingan Manusia Sosial HAKNYA (Rakyat)

 

<Tutup

TERIMA KASIH. SELESAI


SOSIAL PERTAHANAN = NEGARA


SOSIAL PERTAHANAN RAKYAT

TERJEMAHAN ATAS KEAMANAN

DALAM ARTIAN “OSME” NEGARA

PEMBEBASAN (Baca, Kemerdekaan) Nasional adalah “Isme” = Politisasi, menganuti Revolusi suatu Kebudayaan. Berlangsung Perubahan (Materialism). Dialektika yang Logikal. Ruang ke Tempat, terjadi Perbuatan dalam Waktu

 

1. Mengubah (Dasar, Persiapan) = Kehidupan

 

a. Tanam

b. Produksi

c. Kerja

 

2. Membenturkan. Pemikiran – Alam. Ke HAKNYA

 

3. Membentuk

 

a. Kekuasaan (Tujuan Rakyat)

b. Pemerintahan yang Revolusioner

c. Sosialisme (= Masyarakat)

d. Nasional Industrialisasi (Produksi)

e. Dagang (= Program, Berter)

 

Ketika Arah sudah dibuat dari Aturan aturan ke Nilai (atas Perbuatan ‘Seorang’) jadi Sistim, dan Sosial = Organisme dalam Ketaatan, dan Patuh. Mematuhi Keadilan pun Pertahanan (Majemuk)

 

1. Keamanan = “Sistim ke” Perang

 

– Kemampuan (Tubuh, Daya)

– Budaya (Seni, Kerakyatan)

– Tangkal Dini (Peradabannya)

 

2. Perpindahan Tempat Kependudukan (Transforma – Urbanis, Non Marjinalisasi) didasarkan Pangan,  Ekonomisasi (Tenaga)

 

3. Bertahan (Hidup, Dialektika). “Isme” = Pertahanan

 

<Jeda

 

 

 

Keamanan ? Strategikalisasi untuk mempertahankan Sosial HAK ke Perbuatan (Manusiawi), dan Produksi  yang ditujukan Alasan alasan Revolusi terbentuknya Kehidupan Manusia Zamani. Berlaku Politik Rakyat “atas Negara ke negara” . Maka, suatu negara. Suatu Negara yang “Bebas” (Kemerdekaan Manusia di Tanahnya = Bumi dalam Kesemestaan) mampu dijadikan Organisatif Perjuangan Kerakyatan

 

Karena, Para DEMOKRATIK Muda, KIRI dan Kepemimpinan Sosialist dalam Pertempuran ke pertempuran mempertahankan Demokrasi adalah Kekuasaan Rakyat “Miskin”. Dalam Massa (Baca, Politisasi yang Ekonomikal) membentuk Thesiskalisasi di dalam dan menjadi Pergerakan Rakyat Ideologis, Perjuangan “Organik organik Kelas” Buruh (= Pekerja), dan Progresif Sosialisme Milisia

 

Bukan Kebiadaban Perang atas nama Kemanusiaan  Bunuh Manusia/Pikirannya, melakukan (Individualisasi) Penguasaan Alam. Retorika Militerisme. Tentara = “Alat” Perang. Bukan … !!! Itu, bukan Perang Rakyat !

 

<Tutup

 

 

 

SOCIALISTA ! “Silahkan datang …”


“ISME” ATAS MISKIN


“ISME” = POLITISASI ATAS KEMISKINAN

IDEOLOGIKA atas Kemiskinan dibedakan 2 (dua) pemahaman. Sosialisme, atau Kapitalisme (Baca, Individualist). Bukanlah hanya Pertanyaan. Mengakibatkan Manusia (“Ujud”) Tidak Ber – HAK. Tanpa Kebebasan di Tanahnya

 

“Bebas”, Pembaca ……. Ke Acuan Sosialisme Hubungan Masyarakat – Manusia (= Pribadi)

 

1. Tenaganya = (Pemenuhan Kebutuhan)

 

2. Pemilikan Masyarakat ke ‘Nation’. Berhubungan dengan PEMIMPIN (Demokratisasi)

 

a. Sosial = Kebudayaan (Pertanian)

b. Politik – Daerah (Pilihan, Memilih)

c. Ekonomi Industrialisasi (Program)

 

3. Kuasa. Sosial = Kelas

 

<Titik

 

 

 

Atas Kepunyaan (Materialistis). Dijadikan rangklaian Alasan “Miskin” = Terjadi. Kemiskinan = Ukur Politik. Tidak Strategika – Isu. Retorika untuk Ekonomisasi. Dikehendaki Kekuasaan Terjemahan Negara. Memungkinkan “isme” = Perbuatannya ke Bentukan bentukan (“Form”, Ekonomikal)

 

– Kekuasaan = Gerak (Aksi)

– Sistim (Budaya, Ketahanan)

– Azas (bukan Per – Adat – an)

 

membentuk kembali (Reformatif). Berperike – manusia – an. Dari Keadaan MIskin ke  “Memiliki” suatu HAK. Apakah ???

 

HAK Ber – Negara (Kedaulatan, Aturan). Ke Politisasi

 

HAK Ditujukan (Tujuan = Kekuasaannya) untuk “Hidup”. MAKA, berlaku Peradan (Materi ?!?) di Negara

 

HAK Menyelenggarakan  Industri dan Pertanian

 

Ekonomisasi (Relas relasi) yang Politik bukan jadi “Ketegangan Antara”, namun karena didasarkan Dialektisasi – Tanggung jawab menyelesaikan Pemiskinan. Kepemimpinannya – “Milik”

 

Kemiskinan artian Nasional = Politik Demokrasi mencakup Negara Ekonomi yang Rasional (Daerah, Perdagangan, Sektor sektor – “Kerja”) ke Sistim Keputusan = Politisasi dan termaksud Pimpinan ke Kolektivisme dalam bentuk bentuk Sosiaslistis

 

Rakyat Miskin = Politik. Memperjuangkan (Tahapan tahapan Revolusi) Terkuasai kembali HAK Rakyat Berkekuasaan untuk Pemenuhan Kebutuhan kebutuhan Kemanusiaannya (Pangan, Sandang dan Papan)

 

Menghapus Kelas kelas buatan Kapitalis, meletakkan dasar Persamaan, HAK Azasi Manusia (Ekonomi) untuk melaksanakan = Kolektif HAK Rakyat ber – Pemerintahan

 

<Jeda

 

 

 

MANUSIA

TITIK

HISTORIKA

 

Internasionalisme – Agamis belum lagi tersadar tafsir Kemiskinan, bahwa Tidak karena Uang (Beli). Melulu dampak Miskin ke Nasibnya, dan … Kematian. (Bukankah demikian, ‘Bu ?). Jadi a – Politik Kriminalisme

 

Miskin itu nyata dibuat ! Atas Kemanusiaan Masyarakat. Pemiskinan !!! Ekonomi ke Kapitalisme …….

 

— oOo —

 

<Titik

 

 

 

Pemilikan suatu Kekuasaan (?). Penghidupan … Tenaga = HAKNYA (Kelas). Bekerja untuk Manusia Sesama  (Adil, Berbuat). Tderjemahan ke “Individu” = Pribadi. Bersama. Dalam Takdir – Rakyat di seluruh Dunia

 

<Tutup

SEKIAN, TUAN TUAN …

 

 


PEMBICARAAN IDEOLOGIA EKONOMISASI (KEPENTINGAN KEPENTINGAN)


KEPENTINGAN kepentingan, yang terkendalikan HAK dalam Aturan

 

1. Negara. Kekuasaan (ke) Pemerintahan

 

a. Pemerintahan dan “Demokrasi dari” Kekuasaan (Politik Ideologisasi)

b. Keuangan. Nasional ke Industrialisasi

c. Internasional Hubungan Politik (Pemerintahan ke pemerintahan)

 

2. Parlemen Rakyat = Nasional

 

a. Kerakyatan dan Pengawasan

b. Pembentuk Undang Undang

c. Pemilikan, Strategika – Kepatuhan

 

3. Sosial dalam Kepentingannya

 

a. Pembentukan suatu Masyarakat

b. Kemanusiaan HAK = Azasi

 

– Penyelenggaraan Negara (Manusiawi)

– Pemenuhan Kebutuhan kebutuhannya

– Kelas, Sosial HAK

 

c. Putusan putusan = Ke – Negara – an

 

<Jeda

 

 

 

Saudara saudaraku di Pertemuan Partai Rakyat dengan DEMOKRATIK dihadiri beberapa Partai  (Kerakyatan) dan Perwakilan Rakyat, yang berada di di Negara negara Demokratik

 

Ke Depan KITA akan mengembangkan Sosial Industri = Ekonomi. Terpolitisasi lah Kepentingan kepentingan (Tarung). Tidak Penguasaan – Kebebasan. Dua Kdepentingan pun Satu. Berke – Kuasa – an. Rakyat = Kepartaian (Perburuhan). Jadi bentuk bentuk Ekonomisasi dan PenyelenggaraanKeuangan diutamakan Hubungan Negara ke negara melaksanakan HAK EkonomiManusia atas Pemerintahan

 

SATU, Kepentingan Rakyat ke Industrialisasi (Produksi)

 

DUA, Kepentingan Pembentukan Masyarakat Sosialis

 

TIGA, Kepentingan “Isme” ke Undang Undang

 

Rangkaian Perlawanan atas Kapitalisme Individualist Perdagangan Bebas. Ke “Pasar Terbuka” (Baca, Penyaluran = Distribusi). Politik suatu Perjuangan Kepentingan kepentingan Rakyat (di) Negara. Dalam Putusan putusan Kekuasaan Ekonomikal

 

<Tutup

 

 

 

SELAMAT MALAM DAN TERIMA KASIH

 

Anggota anggota Pimpinan,

Kamerad Partai Tua

Perutusan Dewan Rakyat

dan

Ketua PERSATUAN RAKYAT DEMOKRATIK


BUKU SUATU “NEGARA”


BUKU SUATU “NEGARA”

(Ideas = Logical)

MANUSIA VERSUS INDIVIDUALISME

PARA Pendahulu Kita menyampaikan KEBEBASAN adalah HAK. Manusiawi. Tanahnya di bawah Kebiruan. Terlepas dari “Hukum” – Perang. Berada dalam Kumpulan Saudara saudara se “Keyakinan”

— oOo —

SOCIALISTA ……. !

Percayakah, bahwa Kebenaran dari Pikiran Sosial … (Logika) ? [Saling tepuk ke “Badan” diperlakukan. Suatu kebiasaan Perserikatan. Meng – “ya” kan. Ramai, agak Liar

Legiun legiun kembali menempati Barak barak, yang ditunggui Sang Nenek Pejuang dari Para Cucu (Baca, Penduduk) Demokrasi. Tersenyum Bocah bocah di Kamar. Dibelai Ibu yang ramah

Perempuan perempuan usai bekerja di Pertanian dan Kebun. Mengolah bebijian jadi Makanan. Menyerebak wangi rambut yang menggerai. Dalam hangat udara jelang malam di bukit bukit bebatuan

Dari Pulau itu, menampak Gemintang. Terlihat pijaran Api

Itulah, yang Nasional ! Kata mereka, Tuan tuan Muda yang di Zaman Industrialisasi jutaan Pabrik di seluruh Negara. Para Tetua bersama duduk bersidekap dua lengan tangan. Bertukar pandang ke Orang orang Hitam sedang mengisap gulungan tembakau daun. Teringat “Jiwa yang di Hutan”

Bahasa suatu Kebudayaan. MENYATAKAN. Bukan Pendustaan dulu. Diatur Perbuatan ke HAK Manusia. TUBUHNYA. Ini Retorika Bebas. Ibu akan suka. Inginkah pelukannya lagi ?

Adil adalah Kesucian. Bisiknya. Dalam Masyarakat – Wilayah. Berkeringat. Kerja bukan Duka. KARENA HAK. Mendapatkan Keadilannya ! Terukurkah Uang Individualist atas Produksi, dan Pertanian juta hektar

<Titik

Pertanyaan Filosofis, suatu Benuatika Politik Ekonomisasi di atas Lautan. Terjawab, Bangsa adalah Masyarakat. Terjemahan Ke – Kini – an Sosialisme Produksi = Menyediakan. Pemenuhan Kebutuhan kebutuhannya

<Jeda

“Ke Demokrasi” bukan kalimat bahasa baru  di Dunia

1. PEMBEBASAN

2. HAK

a. Negara

b. Azasi Manusia (Peradaban)

c. Kuasa

3. Kemerdekaan (FREEDOM Of)

Dalam Revolusi atas Materialisme ke Politisasi = Industri. Membentuk Masyarakat/ Penduduk, “yang Berhak” = Kekuasaan (Home Land. Kedaulatan ?) Negara didasarkan SAMA HAK = Kewajiban. Menjadi Constitutions ke ‘Nation’. Rangkaian Pemerintahan dan Negara Negara “Bagian”. Alami, terpolitisasi

Mulai dari Pemikiran Sosial Logika ke Politik, MAKA Sosialis di Amerika masuk ke Tarung Pasar, yang “Terbuka”. Demi Perhitungan Ekonomik Tenaga Kelas

<Tutup

TERIMA KASIH, “MERAH


DEBATE. Sosial Ekonomik


DUA Persoalan ekonomi di Dunia sekarang. Menyeret Amerika dalam Perdebatan

Satu, Sumber Alam ke Produksi

Kedua, Uang. Ke Nilai

– Industrialisasi = Barang. Ke Perdagangan

– Pasar. “Bebas”, atau Terbuka (Berterisme, Aturan)

– Keuangan Negara (Politik)

didasarkan

1. Human Rights

2. Publik. Hubungan ke Hukum

Bentukan bentukan Internasional. Kelembagaan dalam Putusan. Produksi ke Hasil = Budaya. Hukum ? Antara Bangsa ke bangsa = Peradaban. Mungkinkah Keadilan itu dibuat ? Peng – Hukum – an atas Zaman

3. Kekuasaan (Baca, Negara)

Tuan/ Nyonya, yang Terhormat …….

Mengapa didebat ? Hanya karena Tekanan  tekanan “Politik Kaum” Militer. Meskipun perlu. Namun, Bantahan kah atas Social Logics ?!?

1 Demcracy. Ke Perburuhan (HAKNYA)

2. Peradaban. Tani – Budaya (Dasar). Karena, “makanan” (Pengubahan)

3. Keuangan ke Peng – Anggaran = Distribution

Kekuaturan Negara – Rasialisme akan membentuk Pasar. Yang semula Terbuka jadi Ekonomisasi Warna. Berlangsung Ketertutupan di Parlemen (Amerika)

Sesi Perdebatan ke I. Hukum, Pembicaraan (Awal)

1. Imigrasi. Hukum ke “Negara”

2. Transisi Ekonomisasi – Politik

3. Bangsa ke bangsa (federalis)

Sesi Perdebatan ke 2. “Isme”. Ke Tarung Ekonomisasi (“Bebas”)

1. Alat Produksi. Perdagangan

2. Teknologika. Upah, Buruh

3. Pembentukan Industri – Daerah

Sesi Perdebatan ke 3. Kekuasaan, Rasionalisme

1. Kekuasaan, Pertahanan.

2. Internasional. Kekuasaan (Hubungan)

3. Kekuasaan – Nasionalisme

Ketika sadar lah Kita, ternyata bukan hanya dengan Amerika Serikat. Kepentingan kepentingan Kebangsaan. Ekonomi suatu Produksi. Industrialisasi. Hubungan Keuangan – Perdagangan. Berlaku Azas Kepentingan saja. Menyingkirkan Pemahaman Masyarakat sebelum Keberadaan “Negara” mana pun jua di Bumi Manusia

Sekian, Terima kasih.

SELESAI


RETORIKA, EKONOMI – MEREKA


KINI, Internasional Politik berubah. Didasarkan Ekonomik. Membentuk Materika – Perdagangan Dunia. Tetapi, nyaris Produksi tanpa HAK

Karena, Sosialisme pun  Ekonomik. Maka, mengajukan Kekuatan Bertahan Perekonomian

1. Nasional Industrialisme

a. Sumber Alam (Kedaulatan = Wilayah wilayah)

b. Rasionalisme Pasar (Kepemilikan ? Transaktif) Terbuka. Bukan Pasar Bebas

c. Demokrasi (Kekuasaan) Ekonomi ke Produksi – Dagang

2. Pembentukan Masyarakat Sosialisme Dunia (Negara ke Pemerintahan)

3. Produksi, Kepemimpinan – Pemilikan (Masyarakat) di INDONESIA

a. Kepemimpinan (Pembicaraan), dan Pemilikan Masyarakat

b. Hubungan Alat Produksi dengan Teknologika – Buruh (Kelas)

c. Kekuasaan Rakyat – Uang

Menerjemahkan Politik Rakyat Miskin terpolitisasi ke Pemenuhan Kebutuhan kebutuhan Manusia ke Pertahanan dan Negeri pun berdasar

Suatu rangkaian PEMBEBASAN (= Sosial Manusia) Rakyat di Dunia

– Keuangan Industrialisasi (Anggaran)

– Bagi Perlabaan ke Masyarakat

– Buruh, Pengupahan (Jaminan)

– Penyaluran Hasil Produksi  ke Distribusi Barang Ekonomis Perdagangan

Pertumbuhan Ekonomi jangan lah didasarkan Perdagangan tetapi Tahapan tahapan Kemampuan Masyarakat, karena matarantai Produksi (Nilai, Transaktif – Pakai)

Namun, Sektor sektor (= Anggaran Pembelanjaan Negara. Birokratisasi ?) Ekonomi Internasional ke Pasar memerlukan pasokan Uang ke Perlabaan (efisiensi). Sektor Riil, yang didukung Perbankan, terpolitisasi Parlemen, Kenegaraan – Daerah diperkuat. Ratio – Keuangan = Hubungan. Industrialisasi

1. Putusan putusan Negara. Politik. Nasionalisme ke Perbuatan

2. Pemakaian. Hasil (Kemasyarakatan)

3. Pelaksana. Negara atas Keuangan. Ketaatan

Tidak retorika = Politisasi Ekonomi (mereka) ke Perlakuan atas Negara, acuan Ketakutan saling Curiga ke Pertarungan Monopolisme Liberalistik ke Individualist. Ngoceh dewek setelah belajar Ilmu Politik. Lalu, jadi Dagang Jasa  Politik di Negara mana Tujuan. Menguasai Hukum – Pemerintahan, tetapi blo’on ! Dasar !?! Ngawur … ?

He he he … ! SEKIAN, deh !


SUATU PERSEMBAHAN AKHIR


NUSANTARA

JAYA

PERSEMBAHAN

TERAKHIR.

PANCASILA TERJEMAHAN EKONOMI

PEMIKIRAN ke Titik titik yang telah menempatkan Negara suatu Konstitusi atas Organisasi, namun bukan lah Kelembagaan Hukum karena didasarkan Kemanusiaan dalam Sila Musyawarah ke Pemufakatan

Karena,

Sosial Keadilan MANUSIA

Kekuasaan Rakyat (PERSATUAN)

Bumi, Tanah/ Letak

Pembukaan

“… untuk membentuk … Pemerintahan, … berdasarkan Keadilan Sosial …….

(Baca, SilaPancasila)

“… disusunlah dalam suatu Undang Undang Dasar Negara …….

Terbentuk

“… dalam suatu susunan Negara … INDONESIA …….”.

Titik Pikir Manusia ke “Ide” Negara menyelenggarakan Hubungan Kekuasaan Rakyat – Keadilan dalam pasal pasal Ekonomi Dasar untuk Pemenuhan Kebutuhan kebutuhannya. Berdasarkan Kebabasannya di Tanah Nusantara

Bentukan bentukan Rasional ke HAKNYA (Produksi, kepentingan kepentingan) Rakyat INDONESIA di Dunia Tujuan Kemakmuran Negara dari usaha Perekonomian Industrialisasi

–          Internasional (Dagang ?) ke Pembentukan Masyarakat Sosialis

–          Nasional Industri = Kemasyarakatan (Baca, Masyarakat ke Kelas)

–          Kepemilikan Masyarakat Sosial Kekuasaan Ekonomisasi

<Jeda

Presiden (= Negara), yang didasarkan Kekuasaan ke Pemerintahan dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik INDONESIA mengacukan Sistim = Kekuasaan Uang, mempertanggung jawabkan Pelaksanaan Ekonomi (Aturan ke Perintah), berlaku Negara (Pancasila) Industri

1. Pasal 33 ayat 4 “… atas Demokrasi Ekonomi … BERKEADILAN … Keseimbangan … Kesatuan … Nasional”

2. Tidak Individualisme, tetapi kepemimpinan – Pemilikan Masyarakat (Penjelasan Resmi Undang Undang Dasar Republik INDONESIA)

3. “……. BERHAK … sama dalam Pemerintahan”. (Pasal 28  D ayat 3)

<Tutup

SOSIALISME JAYA !

Sekian.

Terima kasih, Tuan …


TERROR ! TERROR ! TERROR ! KONTRA – BOIKOT !


TEROR, KEKUASAAN PERANG

Pembebasan

KEAMANAN suatu Negara menjamin Tingkatan tingkatan Hidup Kemanusiaan Masyarakat, yang hendak dicapai. Bukan Penguasaan Militeristis

 

Ukuran ukuran Kekuasaan diarahkan ke Sistim = Konstitusif, Pemerintahan, melaksanakan Hukum dalam rangka Ketahanan Nasional  (Baca, Wilayah wilayah). Bukan “Tekanan atas” = Terror Ekonomi

 

Seimbang – Rasional dalam Kemampuan kemampuan Bertahan Rakyat (Sebab) Tenaganya

 

1. Kebijaksanaan

 

2. Perintah

 

3. Keputusan

 

4. Komando (Unit unit ? Lihat juga, Anggaran Dasar PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK)

 

5. Instruksional

 

Dipertahankannya. Sehingga, Kekuasaan (di) Negara selama “Keadaan di bawah” Panglima Tertinggi (Kepemimpinan Peperangan) mampu berlangsung untuk “Membentuk”

 

Unsur unsur Kerakyatan (Negara) suatu Organisme – Pertahanan Rakyat

 

Pergerakan ke pergerakan “Ubah” = Putusan putusan dalam keseimbangan Demokrasi Ekonomisasi (Produksi), tidak saling lepas dari Kedaulatan Sosial = Kuasa

 

Ini , Politik ! Tujuannya yang akan membedakan. Antara Pihak ke pihak. Ber – “Negara” (Negara = “Ide” . Utopia kah ?)

 

Tetapi, ketika Pertahanan diterjemahkan “jadi Kekuasaan”, jikalau terkendalikan Kelompok kelompok (Dari ? Pemerintahan – Militerisme, atau Pihak pihak lain dan Luar), maka diterapkan Taktikalisasi “Demokrasi ke GerakInternasional (Boikot Dagang, Produksi)

 

Karena,

 

–          Ancaman atas Rakyat (dalam Kelas)

–          Kemungkinan “Pecah Kekuasaan”. Lalu, saling berhadapan. Ke Kontra (Tidak kembali Oposisional )

–          Tentara pun tidak Taat ke Rakyat (Demokrasi)

 

 

 

SELESAI

 

 


TANGGAPAN POLITIK KOALISI


TANGGAPAN POLITIK KOALISI

APAKAH Pemerintahan suatu Koalisi Partai partai atau Tidak Bisa ? Bersumberkan dari Undang Undang Dasar Republik INDONESIA Pasal 4 ayat 1 “……. memegang Kekuasaan Pemerintahan.” Karena, Presiden didasarkan Pemilihan Demokratisasi kekuasaan

 

Namun, Kepentingan kepentingan mungkin. Tetapi, berlangsung Pembicaraan sebelum Pemilihan. Terlaksanakan Tidak dengan Partai yang punya Calon Presiden lain juga. Aetelah itu, … politisasi

 

Dalam Parlemen pun tidak diberlakukan Koalisi (Proporsional, Keanggotaan) dan Oposisi. Mengacu Perwakilan (Lihat, Pembukaan). Negara ke Sistim (Konstitusional). Kedaulatan Rakyat di Negara. Bukan Pertarungan ke Militerisasi. Bersama ke Pembentukan Undang Undang

 

1. Kekuasaan Pembentuk (Fungsi)

2. Dua Kamar = Wakil

3. Keseimbangan. Negara – Pemerintahan

 

Tidak satu Kegiatan Penyelenggaraan Kenegaraa, yang diputuskan Partai (Perbandingan Vietnam). Sehingga Partai Politik tidak mampu menarik Calon Presiden di Pemilihan

 

–          Kekuasaan (Politik) di Negara

–          “HAK” (di) Negara. Rasional. Atas Suara Distrikasi

–          Hubungan Pemerintahan (Wilayah) dengan Parlemen

 

Tidak ada “Kekuatan Sama” dalam tarung Politik, kecuali (maksud, Demokrasi) Partai partai gabung ke Partai Calon Presiden

 

Untuk apa Koalisi ??? Terpilih, koq ! Membagi Jabatan/ Kursi ? Di Negara (ke Wakil Presiden kah ? Ha ha. Calon ne sopo, ‘Rek ! Akan ngawur, dunk !). Sementara, Agen agen Politik Sewaan beranggapan saja. Ke Penisbian. Dan, ternyata ? Maksud, Pengamanan Suara ke Pemilihan. Nanti !?!

 

Mungkinkah Bagi Suara Rakyat (Pemilih) ? Dan, kuatir yang ada “Berpindah” ? Wah ! Sontoloyo Tukar Politis ancam Ekonomisasi – Perbankan dipaksakan “masuk” ke Hukum – Kepresidenan

 

 

 

SEKIAN

 

 


POLITIK BUDAYA – INDIVIDUAL


BUDAYA, POLITIK – INDIVIDUAL

BEBERAPA dasar, yang diajukan antara lain “Kaum” Feminis, Politisi, dan Para Ekonom untuk menyelesaikan Kebudayaan – Moderenikal, yang diartika Sepihak atas Ke – Ilmu – an. Menerjemahkan ke Pemahaman (Syarat syarat)

Militer gagal, karena berlangsung Hubungan Negara – Masyarakat dengan Kebudayaan. Logis. Ke suatu pemerintahan. TERTUNTUT Tanah = HAKNYA (Perdamaian)

Pertahanan adalah Gerak. Membuat Kekuatan. Tidak Individualisasi, walaupun Proses (Kejiwaan). Untuk Bersama. Cara ke Hasil = Kebudayaan. (Bagaimanakah Ke – Tentara – an ?). Lalu, dibentuk. Karsa, Rasa ke … Perbuatan

Ajuan Politik – Feminisme – Ekonomist (Baca, Industrialisme = Teknologisasi) tersebut telah menjadi Reaksioner Aatas “Negara”. MENUNTUT. Ke Peradabannya. Suat realitas ? Penghidupan. Ya, ya ! Apakah Idealisme (Pemikiran) ke Niat, atau … Kekecewaan ? Nah ! Itulah, menunjukkan Moderat – Keputusan . Di Perpolitikan. Ke … Skeptisme

Strategikalisasi HAK (Perempuan kah ?) dijadikan Perjuangan Budaya = PERUBAH. Materialism ke Gerakan. Kebaruan Zaman Manusia. Kemutlakan. Masyarakat untuk Kelahirannya

Membentuk Masyarakat, didasarkan Kekuasaan – Aturan Tujuan Pemenuhan Kebutuhan kebutuhan (Anak anaknya). Kebudayaan. Bertani, Berke – Kuasa – an, Aturan Berproduksi

Bentukan bentukan Juang dalam Ke – Wilayah – an = “Ruang” (Pikiran). Suatu Kedaulatan – Waktu. Dibenturkan. Budaya Pertanahan/ Tempat. Manakah Universalisasi Peradaban Tanpa Nilai – Alam Kemanusiaan. Tidak lah “Wujud” Hukum

SELESAI. Terima kasih


MAHKAMAH AGUNG AMERIKA


HUKUM –

MAHKAMAH AGUNG AMERIKA

DI DUNIA


MAHKAMAH Agung suatu Lembaga Hukum ? Mungkin saja … tidak. Karena ada “Negara” dalam Penyelenggaraan Keadilan (Manusia)

Hukum itu lah, yang dibuat. Untuk Pelaksanaan Kekuasaan. Namun, Hukum Tidak Kuasa. Menyediakan Dasar  (ke Sistim. “Azas.) berbuat” = Negara (Per – Undang Undang – an) atas Pemerintahan

Memilah “Kekuasaan  Berlaku” dan “Negara Kuasa”. Namun, dalam Filosofika, Tanpa Kekuasaan tiada suatu Negara. Maka, Hubungan Kekuasaan dengan Mahkamah Agung dipertanyakan

Section 1. The judicial Power of the United States, shall be vested in one supreme Court, and in such inferior Courts as the Congress may from time to time ordain and establish.

1. Perbuatan, Figur (= Politisasi). Section 1. The judicial Power of the United States, shall be vested in one supreme Court, and in such inferior Courts as the Congress may from time to time ordain and establish.

2. Putusan putusan (Keadilan ? Baca, Kekebalan)

3. Kebebasan – Hukum. Ke Pemeriksaan. Section 3. Treason against the United States, shall consist only in levying War against them, or in adhering to their Enemies, giving them Aid and Comfort.

Ketika Demokrasi (Baca, Rakyat) bergerak, maka Sosial = Kuasa. Menuju Keadilannya. (Di Amerika ? Ke Pemerintahan). Menjadi Keputusan Organisatif  Negara. Ke Internasional. Tidak lagi Benuatika. Meletakkan Oposisional = Perbedaan atas Hukum ke Hukum

1. Materialisme, Ke – Benda – an

2. Rasialisme – Negara

3. Nasionalisme ke Peradaban

Bukan hanya Perselisihan – Tengkar, yang didasarkan Kedaulatan = ‘Nation’ (United ?), terpolitisasikan. Lalu, “Mahkamah” telah dijadikan jelmaan Konstitusif atas Perlindungan (Law). Antara Pemerintahan, mekanisasi Lembaga lembaga Negara = Wilayah wilayah, Penduduk Amerika

Section 2. The judicial Power shall extend to all Cases, in Law and Equity, arising under this Constitution, the Laws of the United States, and Treaties made, or which shall be made, under their Authority; to all Cases affecting Ambassadors, other public Ministers and Consuls; to all Cases of admiralty and maritime Jurisdiction;

Sementara, bagimanakah juga Internasional Hukum – Kekuasaan ?

1. Hubungan Kebangsaan – Ekonomisasi

2. Rasionalisme = Politik

3. Putusan putusan Kekuasaan

Pelanggaran pelanggaran HAK Azasi Manusia, Penguasaan HAK HAK Wilayah Wilayah (di) Dunia. Pemerintahan Amerika Serikat dan Militer berlawan Sosial HAK Ekonomi

SELESAI


Conservatism versus ECONOMY (SCIENCE) Modern


MARKET, by the Conservative opposition made the Academics. Used the money “from” Profit (Profit = Economy). Subscribe (explain?) Smith, Adam. Money = Things = Tool. Command based politicized State (Trade)

 

Education in Theory states “Not in the Market”

 

Liberalization seemed to stop. Moment. Worries over Mastery (Financing “for”). Use the circuit in Foreign Currency or the market. (Submission reason is) 

  
Executors Economy (do not read a conservatism. Money – Gold) came into politicization “Modern Power”

 

College Graduates rely on the decision of the decision of the State Finance. Conservatism is not. So, terbaliklah “Prejudice” in Liberalization

 

Reasons for Political reasons

 

1. Materialism. To Money

 

2. Trade = Economic Costs

 

      a. Subdivisions

      b. Spending (conservatism, characteristic features)

      c. Calculation

 

3. Business, “Use” (Money) 

 

The dispute had started to show when the World Economic walloping taxable International Money Back swelling. Pressure occurs to a State 

However, the possibility of many 

    – “Centralization” by State

    – Financial Program (Power)

    – Distribution. Materials, Results

 

    etc.

 

For Growth (Read, Benefits Costs). “Goods to result” in a Poverty for Community Economic Not only positional (Full) transactive course of trade, Ekonomisasi Finance, and Governance (= Decision State) Liberal Economic System is not any, but the provider. Then, without understanding their Trade Agreement (Conservatism – Scientific). We’ll see … ….


“GERAK KUASA” RAKYAT


PENJELASAN

TENTANG “GERAK KUASA”

RAKYAT

 

Kepada

 

Yth. 1. Ketua Umum PERSATUAN RAKYAT DEMOKRATIK ;

           2. Ketua Umum PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK ;

           3. Ketua Umum PARTAI POPOR ;

           4. Ketua Umum PARTAI PERSATUAN PEMBEBASAN NASIONAL ;

           5. Ketua ketua (Umum) ORGANISASI PENDUKUNG ;

           6. Sekertaris Jenderal PARTAI PERSATUAN PEMBEBASAN NASIONAL ;

           7. Ketua MAJELIS RAKYAT ;

 

 

 

    I. KESEPAKATAN “GERAK”

        (KE NEGARA

        ATAS PEMERINTAHAN)

 

1. Sosial Kemanusiaan (HAK)

 

2. Sosial = Kekuasaan (Tujuannya)

 

3. Sosial HAK (Kelas)

 

dst.

 

Bukan Negara = Pemerintahan (Tetapi, Demokratisasi. Karena, Wilayah). Bukan Kuasa Individualist. Bukan Militerisme

 

Dikatakannya, KOLEKTIF ! Berdasarkan

 

1. Kerakyatan = HAK di Negara

 

Undang Undang Dasar Republik Indonesia Hasil Amandeer (Kerakayatan ?)

 

Pasal 28 C ayat 1 “… berhak … pemenuhan kebutuhan dasarnya … umat manusia”

 

2. Persamaan (= Hubungan). Keadilan

 

Pasal 28 H ayat 2 “….. berhak … persamaan dan keadilan”

 

3. Budaya (Tani, Industrialisasi)

 

Pasal 28 I ayat 1 “Indentitas budaya … hak masyarakat … zaman … peradaban”

 

Membentuk Kepemimpinan dalam Masyarakat

 

ANGGARAN DASAR

PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK

 

Pasal 7 “….. rakyat dalam revolusi … politik, ekonomi …”

 

Terlihat oleh –  untuk = karena Rakyat. Adalah, suatu Kekuasaan. Berbuat !

 

PENJELASAN RESMI

UNDANG UNDANG DASAR REPUBLIK INDONESIA

 

Umum

 

II. Pokok pokok Pikiran

 

“……. terkandung

 

     “… persatuan …..

     “… mengatasi … paham …” (= Individualisme)

     “… keadilan …..

 

“……. kebatinan … pikiran … yang menguasai hukum …

 

“……. membuat, merubah … mencabut …

 

“… berubah … hidup … gerak gerak kehidupan masyarakat … INDONESIA …

 

Tentang Pasal pasal

 

Pasal 1 “… pikiran kedaulatan rakyat. … yang memegang kedaulatan …”

 

Pasal 2 ayat 1 “….. ialah … sistim … ekonomi …”

 

Pasal 23 “… caranya … hidup dan didapat … oleh rakyat sendiri.”

 

Pasal 32 “Kebudayaan … ialah … usaha … dan daya Rakyat …..”

 

Bab IV

Kesejahteraan Sosial

Pasal 33

 

“… produksi … pemilikan … masyarakat …..”

 

“… bukan orang seorang …..”

 

KEBEBASAN = HAK (MERDEKA)DI ATAS TANAHNYA

 

“… alam … bumi … air …..”

 

Karena,

 

Pasal 28 C ayat 2 “… HAKNYA secara kolektif … untuk masyarakat, … dan negaranya”

 

Maka

 

adalah Pertanggung jawabannya. Biarpun politik (= HAK pun gerak. Lembaga ?  Kelompok ?). Tetapi, bukan Hukum ke Peng – HAK – an

 

Penuntutan atas Kesalahan. Beda. Antara Negara – Hukum. Bersanksi (Dituduh = Pidana. Dari Luar). Terjadi Penghapusan Bukti (atas Delik. Individualisasi ?)

 

Yang dituntut = Hukum. Ke Perbuatan Normatifik. Memungkinkan (Copot  “Jabatan”. Atau, Kekuasaan ?)

 

Agar,

 

1. Kekuasaan Rakyat di Negara

 

2. Suara Pemilih ke Tujuannya

 

3. Masyarakat pun Sosialis (Pembentukan)

 

Gerak Rakyat = Pergerakan. Ini lah, Pengertiannya. MEMBEBASKAN. Dalam Putusan Kekuasaan

 

Pasal 28 D ayat 3 “….. berhak … sama dalam pemerintahan”

 

Pasal 28 E ayat 1 “….. hak azasi manusia adalah tanggung jawab negara …”

 

    II. PERSETUJUAN DASAR JUANG

 

Dari Penjelasan di atas, gerakan gerakan Rakyat punmenuju Kekuasaan Rakyat “Miskin” harus dan bahkan wajib disetujui oleh Rakyat (Kemasyarakatan). Melalui Politik rakyat ke Negara. Didasarkan Kerakayatan HAK Kolektifnya

 

    III. MASSA = AKSI. Perbuatan HAK ke Negara Ekonomi (Baca, Kolektivisme)

 

Perkenankan, Ketua PERSATUAN RAKYAT DEMOKRATIK, tidak dalam Tulisan ini, tetapi Pembahasan Rakyat Demokratik Hubungan Kekuasaan Massa Rakyat

 

Namun, Pendasaran Arah jelas, Kamerad. Sosialisme ………

 

Bukanlah wewenang Kami Pembebas, tetapi “yang kini” di Dalam, Kawan kawan. Melaksanakan Demokrasi, yang telah dilalui. (Pembentukan Nasional. Kerakyatan). TerpilihPemimpin = Kepartaian (oleh). Diselenggarakan = Demokratisasi Kekuasaan (di) Negara

 

<Tunda

 

 

 

BERSAMBUNG KAH ?


EKONOMI POLITIK – “NEGARA”


PEMERINTAHAN Tidak lah “Negara”. Ini, Revolusioner ! Melalui Partai ? Memang sudah diterima. Berdasarkan Revolusi (Ajaran Kerakyatan). lalu, Pembentukan Kekuasaan (Rakyat)

 

Bukan oleh Kepartaian dibentuk Negara. Tetapi, Kekuasaan Rakyat “Miskin” Pembentuk Dasar. Dan, terbentuk Pemerintahan Rakyat Demokratik. Karena, diadakan Pemilihan. Politik Rakyat Miskin. Karena, Berdaulat di Tanah (Kelahiran) Kita. Mewujudkan Sosialisme Negara

 

[Tidak perlu lagi bicara dengan Politisi politisi Korup di negara – Mereka (= Bukan suatu Pengakuan). Memuakkan ! Menjijikkan … ! Memualkan Perut Manusia Yang lapar !]

 

Suatu Negara mampu mengadakan Ekonomi, didasarkan

 

     – Produksi. Laba ke Masyarakat

     – Tenaga Buruh – Tani

     – Sosial Keuangan (Transaktif)

 

Untuk Pemenuhan Kebutuhannya. Pangan, Sandang – Barang, Perumahan

 

Ekonomi “karena” Politik = Ber Negara, Ber Pemerintahan. Dalam Ber Partai. Yang Terpolitisasi. Kekuasaan Rakyat “Miskin” = Mengatur. Politik Ekonomi ke HAK

 

Gerakan gerakan pun Demokratik, mempersiapkan Ekonomisasi Ideologik Politis

 

1. Tujuan Kekuasaan (di) Negara)

 

     a. Sosial = Kuasa Ekonomi

     b. Sosial Pemerintahan Demokrasi

     c. Sosial Keuangan Negara

 

2. Industrialisme = Produksi

 

     a. Nasionalisasi Industri (Politik)

     b. Tenaga Kelas (Buruh)

     c. Pengelolaan Sumber Alam

 

3. Tani. Ke Pangan (Budaya)

 

     a. Lahan lahan Tanam

     b. Penyaluran (= Distribusi Ekonomik)

     c. Kerja. HAKNYA (Ekonomi)

 

Karena, Perjuangan lewat Demokratisasi ke Pemerintahan tidak selalu Memadai. Tersekat. Berhenti. Rasionalisme ke Hukum, Modernisme ke Yang Punya (atas Alat alat Produksi) versus Kemiskinan, Adat ke Tradisionalisasi (= Bangsa ?)

 

Tanggung jawab Pemerintahan terlepas dari Demokrasi – Negara. Menjadi Kebiasaan lah Negara negara Industri berhubungan hanya dengan Penguasa – Yang “Empu” Uang saja

 

Tampaklah Kekuasaan Rakyat dikendalikan. Keadaan atas Produksi. Maka, Demokratik memperjuangkan, menyalurkan = melakukan Sosial HAK HAKNYA (Kelas), yang bersumber dari Kelas Pekerja Buruh. Di Negara

 

 

 

SELESAI

 

Dalam

Persidangan Tahap 2

(Politik)


PEREMPUAN SOSIALIS – INDUSTRI


MAMPU KAH ada kekuatan lain ke Tiga antara Individualisme dengan Sosialisme ? Mungkin Perempuan (Kaum) ? Lalu, “kaum” yang Perempuan suatu Kelas ? Tidak. Maksud, kaum belum tentu Kelas

Banyak Pemikir “Kiri” menyatakan Politik yang Sama

“HAK” Perempuan, yang didapatkan Sebab ‘Melahirkan’, tidak menjadi Kewajiban. Karena, Anak Manusia yang Lahir telah memperoleh Sosial Hak di suatu Negara. Berkewajiban lah Pemerintahan untuk Kebutuhannya

1. Perempuan adalah ‘Ibu’

a. Melahirkan (Manusiawi)
b. Mengasihi, menyayangi (= mendidik)
c. Memberi makan

2. Perempuan, Kehidupan, Industrialisasi

a. Tenaganya
b. Ber HAK = Penghidupan, Penghasilan, Pemukiman
c. Pertanian

3. Perempuan di suatu “Negara”

a. Rakyat
b. Terpilih, mewakili Rakyat = Bernegara
c. Keluarga

Ini lah, Sosialisme. Menuju Kekuasaan Rakyat “Miskin”

Tradisionalisasi (Wilayah, Daerah) pun Utopia ke Politik Materialisme, diterjemahkan dalam Kemampuan kemampuan Menyelenggarakan = Berbuat melaksanakan Kenegaraan. Menjadi Pemimpin dan Anggota Parlemen Nasional. Rangkaian Program, yang diajukan Bertujuan Tidak Individualisme Ekonomik. Karena, Perempuan melahirkan. Sosial Hubungan Kekuasaan dengan Produksi

Politisasi dalam kaum berujud Hak Sosialistis (Baca, Kepentingan jadi Politik) ke Kelas. Terbentuk, menganuti Kuasa (Kepemilikan) Rakyat

Apakah Thematika Penulisan ini Dialektis ? Mungkin lah, atau Tidak. Bagaimana kah Keadaan Politik Perempuan Sosialis kini

Terlihat dalam Industrialisasi Ekonomi, yang berlangsung. Ketika Individualisme, mana kah Perbuatan yang Sosial Perempuan (Haknya), walaupun Konstitusif atas Pasal pasal Perempuan yang Manusia, memuatkan

1. Bentukan bentukan Kelas = Demokrasi ke Tujuannya

2. Sosial ke Negara Ekonomi

a. Hak atas Produksi
b. Ekonomi = Keputusan Politik
c. Sistim (= Pakai) Keuangan

3. Penyekatan (Massa) oleh Perempuan atas Ekonomisasi Birokratisme Feodalist

Perempuan (Muda), atau Ibu “yang Beranak” memasuki Kelas Sosialis (sekali lagi, Sosialis), karena didasarkan Tenaga (= Buruh), yang menyelenggarakan Pemenuhan Kebutuhan kebutuhan (Pangan, Sandang, Barang) Masyarakat. Mematuhi Aturan aturan Sosialnya

1. Kemanusiaannya. Hak Azasi

2. Sosial = Tenaganya (Hak)

3. Hak atas Produksi

<Jeda

Perekonomian Liberalisme tidak akan pernah mampu “Membuatkan” Hak Seorang Perempuan mempertahankan Kemanusiaannya. Manusia Perempuan pun bukan lah Rasialistik. Sebab, Kekuasaan Rakyat melalui Badani Ibunya (Lahir)

<Tutup

SELESAI


RETORIKA TERNYATA LAWAN BUTUH KUASA


RETORIKA

TERNYATA

LAWAN

“BUTUH”

KUASA

 

MUNGKIN akan enggan dijawab. Namun Pertanyaan belum selesai-Tidak. Terjawab dalam muslihat saja.

 

Jawaban hanya Pendustaan atas Kebenaran

 

Semua Yang Benar, Dihancurkan ! Tidak ada Masyarakat. Maka, Tiada Rakyat juga. Di mana pun.

 

1. Hanya ada Kekuasaan (dalam Konstitusi)

 

2. Beberapa cara Penguasaan

 

     a. – Pangan

         – Kebutuhan kebutuhan = “Benda”

     b. – Wilayah wilayah (Alam)

 

3. Hukum atas Negara (Rechstsstaats) Pemerintahan ke Pemerintahan (Kuasa)

 

Tampak sungguh memang Lawan Buruh Kuasa !

 

— o0o —

 

Kekuasaan Rakyat jangan diterjemahkan

 

     – Suatu Kekuasaan “Di” Rakyat

     – Kekuasaan = Berkuasa = “Penguasaqan”

     – “Kekuasaan = Menguasai” Rakyat

     – Rakyat Kuasa “Atas Rakyat Lain”

     – “Kekuasaan Dari” Rakyat

 

Bukan Sylogik. Ya, Retorika …

 

— o0o —

 

1. Di antara Lawan Tidak Saling Kuasa

 

2. Melalui,

 

     a. Pembendaan ke “Material” karena Terbentuk

     b. Kuasa (di “Luar” Materi – Dasar) Benda

     c. Hubungan Ekonomik Produksi Jual – “Rusak”

 

3. Mencari Obyek Dikuasai dan Berkuasa

 

Maka Kekuasaan = Kebutuhan. Materialisme Un-Logikal. Demikianlah Tulisan “Pembahasaan”

 

SELESAI

 

 


MASSA – AKSI – MASSA PENGORBANAN MANUSIAWI


1.

DIDUKUNG Kemampuan kemampuan Ekonomik mengoperasikan Politik diarahkan Pelapisan Sosial – Ideologik, berdasarkan Rasa Ketidak Adilan atas Manusia adalah Ajaran, membuka Massa – Aksi – Massa, dimaksudkan bukan untuk pengerahan Massa – Demokrasi.

Retorika untuk alasan alasan Keamanan Militerisme membentur HAN (Pertahanan) – Teoritikal Kerakyatan karena Terdeteksi upaya Menghilangkan Kepemimpinan dalam Aksi – Massa – Aksi, yang dipersiapkan untuk Revolusi Sosial.

Kesalahan kesalahan Perbuatan menerjemahkan Strategi – Taktikal Ideologi dan Pelaksanaan agar segera terjungkal Penguasa Individualisme, diakibatkan mengkuatirkan Manusiawi Nafsu untuk Berkuasa atas Dirinya karena suatu Permusuhan.

2.

Tiga Kewilayahan – Daerah daerah, yang berkewajiban untuk menerima, terserap dalam Kemasyarakatannya (Manusia)

a. Wilayah Kemanusiaan, yang berjumlah Besar ;

b. “Tempat” Perlindungan dalam Kekuasaan Rakyat ;

c. Pertempuran berskala. Daerah yang Luas.

Biarpun Kekuatan kekuatan Non – Revolusi akan menunggu, yang disebabkan untuk mempersiapkan Ekonomisasi – Keuangan Masyarakat.

3.

Sikap menjijikan Tyrani, yang sedang Bersenang di atas Kehinaan Perempuan perempuan Sosialis di seluruh Dunia, memerintahkan Parlemen gantikan Demokrasi di suatu Negara jadi Mekanisme Hukum. Aksi – Massa – Aksi pun menghadapi Dua Musuh Aseli. Penguasaan dan Birokrasi untuk Individualisme – (di) Kenegaraan. Dengan samaran Politik menghapuskan Jejak jejak Kapitalis.

— o0o —

Masalah masalah di atas menjadi Bahasan Politik dalam Tujuan Perjuangan Sosialisme, berdasarkan Ajaran Kerakyatan – Nasional. Membentuk Masyarakat, ….. yang nyaris dikuasai Kapitalisme – Internasional.

Konsep Berbangsa secara Politik telah dihancurkan ! Melalui Tuduhan, bahwa Ningrat – Keadatan kembali Berkuasa atas Wilayah wilayah Nasional – Kenegaraan. Menjadi (… dibuatkan) Hukum atas Kekuasaan.

Bagaimanakah mungkin Kekuasaan Rakyat dibatasi dengan menciptakan Hukum ? Terjebaklah Masyarakat dalam Suasana Individualisme – Ekonomik di Negara. Menghadapi alur alur Demokrasi berbalik Penghancuran Kerakyatan – Manusia di Masyarakat …….

Logika Politis – Dialektika mengajukan Massa – Aksi – Massa. Dalam Politisasi Kemasyarakatan di suatu Negara. Seorang Ayahanda dulu meminta cepat dihancurkan Birokratisme – Pemerintahan.

— o0o —

Kepekaan Massa untuk menghancurkan Penyebab, diakibatkan atau karena Pertentangan antar Kelas kelas Ekonomi hasil Kapitalisme di Masyarakat, mengarah dua sudut pandang (terpincingkan liar dua mata).

Individualisme pun akan dijadikan “Alat” Kapitalisme dalam Kemasyarakatan melalui Pemilihan di suatu Negara. Bertujuan Kemutlakan Hukum atas Keuangan. Diajukan dalam Pertarungan Kekuasaan.

Selesai.

Jakarta, Juli 2007.

Pembebasan


PERLAWANAN KEBEBASAN POLITIK


 KEBEBASAN SUATU POLITIK

MELAWAN

 LIBERALISM–INDIVIDUALIS–KAPITALISM

 

 

 

 

 

 

DUA Politik Kebebasan bertarung ……. untuk pembentukan suatu Masyarakat Nasional – Wilayah wilayah. Menerjemahkan Kebebasan, dilaksanakan. Materialisasi Kenegaraan adalah Perlagaan, yang berakhir dalam Tujuan Kebebasan.

 

            Pemikiran Tentang Sosial. (Sosialisme), didasarkan Kemanusiaan, melawan Politik Liberalisme, bersumber dari Individualisme karena Ekonomisasi Kapitalisme, Dialektika – Logika Manusiawi menghadapi Penghinaan Terhadap Manusia.

 

Manusia dibiarkan Tidak Berpikir, agar hanya onggokan menuruti Iming iming ala Nafsu Kebendaan – Perlabaan Uang Negara. Derita, Penindasan, Siksaan, ditujukan untuk Perampasan Hak hak Kemanusiaan atas Tanahnya, Kebebasannya,  Kerakyatannya Genetis – Keluarga.

 

            Dalam juta Kematiannya, terbunuh atas Pisik, Batini, Akal dan Alam (Bumi). Mengudara Jerit Kesakitannya, yang disembunyikan ….. Dalam Rasa Perempuan perempuan Sosialis di Tanah Manusia.

 

1.                  Perbedaan Kelas kelas Ekonomi di Masyarakat ;

 

2.                  Kelas Pekerja – Buruh terlantar di Kontrakan kontrakan Perkotaan ;

 

3.                  Kelas Masyarakat Pedesaan Tanpa Keluarga keluarga Sosial.

 

Benturan benturan Politis merusakkan Tatanan Kemasyarakatan – Negara. Terinjak butiran butiran airmata Anak anak menunggu sesuap Nasi – Beras dijual dengan alasan alasan Ekonomik Kebangsaan.

 

Pembenaran Hukum terus dibentuk Pemerintahan melalui Demokrasi (alasan alasan), Berakhirlah Hubungan Persaudaraan – Manusia karena telah digantikan Kehendak Individualisme.

 

Penguasaan atas Masyarakat dalam Negara. Membentuk suatu Kuasa – Semu. Dari Birokratisme – Govermental Perdagangan Industrialisme. Rangkaian Alat Kelembagaan Memerintah sampai di Rumah rumah.

 

 — o0o —

   

            Penduduk Yang Miskin. Salahsatu Gejala Sosial – Rasional Sosialisme dalam Masyarakat. Dan, Terlihat dalam Bangunan Negara. Bukanlah Kemakmuran – Adil Kerakyatan Dunia.

Mana, yang akan diruntuhkan ? Masyarakat atau Pemerintahan Suatu Negara ? Melalui Kebebasan Politik ……. Rakyat Yang Miskin ! Langit tidak akan runtuh selama Bumi tetap berputar sentralism di Ujud Manusia – Sosial.

“Nation” Politisasi Sosial dalam Masyarakat mampu untuk menggantikan Liberalisme Anti – Kemanusiaan Sosial. Terlaksana dalam Persatuan Nasional melawan Bentuk bentuk Kapitalisme Ekonomisasi (Uang) Kenegaraan.

— o0o —   

 

Politik Kesadaran Sosial di dalam Ingatan Para Demokratik bukan Borjuasi – Demokrasi, akan diarahkan dalam Perjuangan Sosialisme untuk mengadakan Penyebaran Ajaran Kerakyatan. Terbuka, dan Bersatu dalam “Nation” – Persatuan.

            Kebanggaan Muda – mudi Yang Kiri – Sosialis telah menjadi Kemauan Politik dalam Jaringan jaringan Revolusi. Tercampakkankah Niat melawan Penjajahan Imperialistik Moderen Perdagangan Hasil Industrialism Nasional ??? Melawan Ekonomisasi Kaum Birokratis terhadap Sumber sumber Alam di suatu Negara ? Melawan Kepentingan kepentingan Individualis Bernegara atas Kehinaan Perempuan perempuan Kami ?

            Telah ditanamkan Api. Dalam Kemanusiaan – Tubuh Revolusioner Pembebasan. Bukan Pengkhianatan, menuntut Pembelaan Berkuasa … Jarak antara Tujuan Kebebasan Manusia dulu pernah diukur hanya sejangkauan di Rasa.

Kasat mata Pemiskinan, terasakan … Mungkin kami sudah tiada jua. Bagaimanakah kelak suatu Takdir Manusia Yang Muda – Perawan, Keibuan Sosialis – Idea ? Terbiasa, memang ! Dalam Kemiskinan – Sosial. Tetap.

            Kami selalu tetap memilih Pembebasan ! Dalam Kebebasan Manusiawi. Untuk membebaskan Rakyat Yang Miskin. Tiada Pilihan lain untuk Kawan kawan Se – Saudara. Takdir sebagai Rakyat ……… !

   

Selesai.

   

Jakarta, 28 Juni 2007.

 

 Pembebasan