Selamat Datang Kawan di WebBlog Para Pembebas

PERBANDINGAN


Catatan Engels, F

Inilah bagian tentang Revolusi Perancis: “Pikiran, konsepsi hukum, sekonyong-konyong membikin dirinya terasa, dan untuk menentang ini perancah lama dari ketidakadilan tak dapat bertahan. Karena itu dalam konsepsi hukum ini sekarang telah dibentuk suatu konstitusi dan mulai sekarang segala-sesuatu harus berdasarkan ini. Sejak matahari berada dalam cakrawala dan planet-planet berputar di sekelilingnya, belum pernah nampak pandangan dari orang yang berdiri di atas kepalanya – yaitu, di atas Ide – dan membangun realitet menurut gambaran ini. Anaxagoras mula-mula mengatakan bahwa Nous, akal, memerintah dunia; tetapi sekarang, untuk pertama kali, orang menjadi mengakui bahwa Ide harus memerintah realitet mental. Dan ini adalah matahari terbit yang sangat bagus. Semua makhluk yang berpikir telah ikut-serta dalam merayakan hari suci ini. Suatu emosi yang luhur menguasai manusia pada waktu itu, suatu entusiasme akal memenuhi dunia, seolah-olah sekarang telah tiba perdamaian antara Prinsip Ilahi dengan dunia.” (Hegel: Filsafat Sejarah, 1840, halaman 535). Tidakkah sudah tiba waktunya untuk memberlakukan undang-undang anti-Sosialis terhadap ajaran-ajaran sedemikian itu, yang subversif dan membahayakan umum, dari almarhum Profesor Hegel?

 

SUATU PEMERINTAH REVOLUSIONER YANG KUAT

V.I. Lenin (1917)

Kita menyetujui suatu kekuasaan revolusioner yang kuat. Bagaimanapun juga kaum kapitalis serta antek-anteknya berusaha berteriak-teriak seolah-olah kita menyatakan sebaliknya, kebohongan mereka akan tetap merupakan kebohongan.

Melawan kaum kapitalis? Nah, itulah masalah yang pokok. Itulah inti persoalan, sebab tanpa suatu revolusi melawan kaum kapitalis, segala  ocehan tentang “perdamaian tanpa aneksasi-aneksasi” dan penghentian segera peperangan-peperangan dengan perdamaian semacam itu, atau merupakan kenaifan dan kebododhan, atau ketololan dan penipuan. Seandainya tidak ada peperangan, Rusia kiranya akan dapat terus hidup untuk bertahun-tahun dan bahkan untuk puluhan tahun tanpa suatu revolusi melawan kaum kapitalis. Peperangan telah secara obyektif membuat itu tidak mungkin. Pilihannya ialah atau kehancuran samasekali atau suatu revolusi melawan kaum kapitalis. Demikanlah duduknya persoalan. Demikianlah kehidupan telah mengemukakannya.

Kesimpulannya adalah nyata: hanya kekuasaan proletariat yang disokong oleh kaum semi-proletar, dapat memberikan negara suatu kekuasaan yang benar-benar kuat dan benar-benar revolusioner. Kekuasaan itu akan benar-benar kuat, karena ia akan didukung oleh mayoritas Rakyat yang kokoh dan sadar klas.

Ia merupakan suatu kekuasaan yang sungguh-sungguh revolusioner, karena ia adalah satu-satunya yang mampu memperlihatkan kepada Rakyat, bahwa pada saat ketika penderitaan yang tak terkatakan dikenakan atas massa, kekuasaan itu tidak akan berhenti dengan ketakutan di dadapan laba-laba kapital. Ia akan merupakan suatu kekuasaan yang sungguh-sungguh revolusioner, sebab ia akan merupakan satu-satunya kekuasaan yang mampu membangkitkan dan mndorong natusiasme revolusioner massa dan melipat gandakannya dengan sepuluh kali, ketika massa itu akan melihat, mengalami dan merasakan setiap hari dan setiap jam, bahwa kekuasaan itu percaya pada Rakyat, dan tidak takut akan mereka, bahwa ia membantu yang miskin untuk memperbaiki nasibnya sekarang juga, bahwa ia membuat kaum kaya memikul bagian yang sama dari beban berat penderitaan Rakyat.

Kita menyetujui suatu kekuasaan revolusioner yang kuat.

 

 

 

SUNTINGAN SURAT  EDARAN

DARI

KARL MARX DAN FREDERICH ENGELS

Industri modern telah mengubah bengkel kecil kepunyaan majikan patriarkal menjadi pabrik besar kepunyaan kapitalis industri. Massa kaum buruh yang dikumpulkan dalam pabrik diorganisasi seperti serdadu. Sebagai serdadu biasa dari tentara industri mereka diatur di bawah perintah suatu susunan-kepangkatan yang rapi terdiri dari opsir-opsir dan sersan-sersan. Mereka itu tidak hanya menjadi budak kelas borjuis dan budak negara borjuis saja; mereka itu setiap hari dan setiap jam diperbudak oleh mesin-mesin, oleh mandor-mandor, dan terutama sekali oleh tuan pabrik borjuis orang-seorang itu sendiri. Semakin terang-terangan kelaliman ini menyatakan keuntungan sebagai tujuan dan maksudnya, semakin keji, semakin membencikan dan semakin memarahkanlah dia itu.

Semakin kurang kecakapan dan kurang pemakaian kekuatan yang diperlukan dalam kerja badan, dengan kata-kata lain, semakin industri modern menjadi sempurna, semakin banyak kerja kaum pria yang digantikan oleh kerja kaum wanita. Perbedaan umur dan perbedaan jenis kelamin tidak lagi mempunyai sesuatu arti kemasyarakatan yang penting bagi kelas buruh. Semuanya adalah perkakas kerja, kurang atau lebih mahalnya untuk dipakai, bergantung pada umur dan jenis kelamin mereka.

Jika penghisapan atas pekerja oleh pengusaha sudah sampai sedemikian jauhnya sehingga ia menerima upahnya dengan tunai, maka diterkamlah ia oleh bagian-bagian lain dari borjuasi, tuan tanah, tuan toko, pemilik pegadaian, dsb.

Lapisan rendahan dari kelas tengah – kaum pengusaha kecil, tuan toko dan tukang riba umumnya, kaum pekerja-tangan dan kaum tani – semua ini berangsur-angsur jatuh menjadi proletariat, sebagian oleh karena kapitalnya yang kecil tidak cukup untuk menjalankan industri besar dan menderita kekalahan dalam persaingan dengan kaum kapitalis besar, sebagian oleh karena keahlian mereka menjadi tidak berharga untuk cara-cara produksi yang baru. Begitulah proletariat terjadi dari segala kelas penduduk.

 

 

 

 

 

 

 

PENGHAPUSAN KEPEMILIHKAN ATAS TANAH

MARX, KARL


Sekalipun tidak bermaksud mendiskusikan di sini semua argumen yang dikedepankan oleh para pembela hak-pemilikan partikelir atas tanah-para ahli-hukum, -filsafat, dan -ekonomi-politik-pertama-tama akan kita nyatakan bahwa mereka menyamarkan kenyataan sebenarnya tentang penaklukan dengan jubah hak-alamiah.

Jika penaklukan (perebutan) merupakan suatu hak alamiah di pihak (orang-orang) yang sedikit jumlahnya, maka yang banyak hanya perlu mengumpulkan kekuatan secukupnya untuk memperoleh hak alamiah merebut kembali yang telah dirampas dari pihak mereka.

Dalam perjalanan sejarah, para penakluk itu berusaha memberikan semacam sanksi sosial pada hak asli mereka yang mereka dapatkan melalui kekerasan kasat mata, melalui alat-alat hukum yang mereka paksakan.

Pada akhirnya datanglah filsuf yang menyatakan hukum-hukum itu mengimplikasikan persetujuan universal dari masyarakat. Seandainya memang benar hak-pemilikan tanah secara perseorangan itu berdasarkan persetujuan universal seperti itu, maka kita menegaskan bahwa perkembangan ekonomi masyarakat, peningkatan jumlah dan konsentrasi rakyat, keharusan akan kerja kolektif dan terorganisasinya pertanian maupun mesin-mesin dan penemuan-penemuan serupa, menjadikan nasionalisasi atas tanah suatu keharusan sosial, yang terhadapnya tidak akan mempan segala macam omongan tentang hak-hak pemilikan.

AKAR & FUNGSI SOSIAL UNTUK SUATU KEBARUAN


TROTSKY, L

Konsepsi Marxist tentang ketergantungan Sosial – Obyektif serta kegunaan Sosial dari Seni, saat diterjemahkan dalam Bahasa Ilmu Politik, bukan dimaksudkan untuk mendominasi seni dengan Perintah atau Tititpan Pesan.

Tidak benar jika dikatakan bahwa kita hanya menghargai SENI YANG BARU dan REVOLUSIONER, yang menyuarakan suara para pekerja, dan omong kosong jika kita dikatakan menuntut Para Penyair menggambarkan cerobong pabrik, atau pemberontakan melawan kapital ……. !

Tentu saja SENI YANG BARU, tidak bisa tidak, menempatkan PERJUANGAN PROLETARIAT jadi perhatiannya utama. Kesenian Baru tidaklah terbatas dalam beberapa bidang saja. Sebaliknya, ini harus menjajaki semua seluruh lapangan dalam keseluruhan arah.
Syair-syair Pribadi dalam lingkup yang terkecil memiliki KEMUTLAKAN AKAL untuk tetap dalam SENI YANG BARU. Tetapi, MANUSIA BARU tak akan bisa dibentuk tanpa ada PUISI LIRIS Yang Baru. Untuk menciptakannya, sang Penyair harus memandang “Dunia” dengan cara cara Yang Baru.

TAKDIR HISTORIS KITA

LENIN, VI

Keutamaan doktrin Marx adalah memunculkan peran HISTORIS KAUM PROLETARIAT SEBAGAI PEMBANGUN MASYARAKAT SOSIALIS. Kejadian kejadian di seluruh dunia memperkuat doktrin ini sejak ia diuraikan oleh Karl Marx (1844). Dialektika – Sejarah adalah KEMENANGAN TEORITIS dari Marxisme memaksa musuh-musuhnya menyamarkan diri mereka sebagai kaum Marxis …

Namun Kaum Oportunis hampir tidak mungkin memberi ucapan selamat ke Diri mereka sendiri karena “suatu Perdamaian Sosial” dan atas pergolakan-pergolakan yang tidak-merupakan-keharusan di bawah “demokrasi” ketika sebuah sumber baru dari pergolakan besar dunia terbuka di Asia. Revolusi-revolusi Asiatik telah memperlihatkan lagi kepada kita tentang lemah dan betapa rendah Liberalisme, kepentingan khusus mengenai Kebebasan Massa Demokratik, dan demarkasi yang harus diucapkan dengan jelas antara kaum Proletar dengan segala jenis Borjuasi.

Kemenangan Besar Marxisme, adalah, sebagai DOKTRIN KAUM PROLETAR.

KEBEBASAN


POLITIK DALAM PEMISKINAN

TERHADAP

RAKYAT

 

 

Kita tahu bahwa kebebasan politik, pemilihan secara bebas untuk Duma Negara (parlemen), kebebasan berapat, kebebasan pers, tak akan sekaligus membebaskan Rakyat pekerja dari kemiskinan serta penindasan. Di dunia bahkan tak ada alat yang dapat membebaskan kaum miskin kota dan desa dengan sekaligus dari beban bekerja untuk kaum kaya. Rakyat pekerja tak mempunyai seorangpun untuk menaruhkan harapan-harapan mereka padanya dan tak seorangpun yang dapat diandalkannya kecuali diri mereka sendiri. Siapapun juga tidak akan membebaskan si-buruh dari kemiskinan jika dia tidak membebaskan dirinya sendiri. Dan untuk membebasakan diri mereka sendiri kaum buruh seluruh negeri, seluruh Rusia, harus bersatu dalam satu serikat, dalam satu partai. Tetapi jutaan kaum buruh tak dapat bersatu ketika pemerintah otokrasi polisi melarang segala macam rapat, segala macam suratkabar kaum buruh, dan memilih wakil-wakil buruh apa saja. Untuk bersatu mereka harus mempunyai hak untuk membentuk serikat-serikat dari segala macam, mereka harus mempunyai kebebasan untuk bersatu, mereka harus mempunyai hak kebebasan politik.

Kebebasan politik tidak akan sertamerta membebaskan Rakyat pekerja dari kemiskinan, tetapi ia akan memberikan suatu senjata kepada kaum buruh untuk melawan kemiskinan. Tak ada cara lain dan tidak mungkin ada cara lain untuk melawan kemiskinan kecuali penyatuan kaum buruh itu sendiri. Tetapi jutaan Rakyat tak dapat bersatu jika tak ada kebebasan politik.

Orang sering mendengar bahwa katanya tuan tanah-tuan tanah dan saudagar-saudagar itu “memberi pekerjaan” bagi Rakyat, bahwa mereka “memberi” nafkah abagi kaum miskin. Katnya, misalnya, bahwa sebuah pabrik atau perusahaan seorang tuan tanah tetangga “memberi hidup” pada petani-petani setempat. Akan tetapi, sebenarnya, kaum buruh dengan kerja mereka memberi hidup pada diri mereka sendiri dan juga pada semua yang tidak bekerja. Tetapi untuk izin bekerja di atas tanah tuan tanah, di dalam sebuah pabrik, atau pada kereta api, si buruh memberikan kepada si pemilik semua yang dihasilkan dengan cuma-cuma, sedang si buruh itu sendiri memperoleh hanya cukup untuk hidup saja. Jadi sebenarnya, bukanlah tuan tanah-tuan tanah dan saudagar-saudagar yang memberi pekerjaan kepada kaum buruh, melainkan kaum buruhlah yang dengan kerja mereka memberi hidup pada setiap orang, menyerahkan bagian terbesar dari hasil-hasil kerja mereka dengan cuma-cuma.

 

Karena uang kini setiap orang melakukan perang yang sengit terhadap setiap orang lainnya. Masing-masing berusaha membeli murah dan menjual mahal, masing-masing berusaha menyaingi yang lain, berusaha menjula lebih banyak barang-barang, menjatuhkan harga, menyembunyikan dari yang lain pasar yang memberi laba atau kontrak yang menguntungkan. Dalam perebutan umum untuk uang ini orang-orang kecil, tukang-tukang kecil atau petani-petani kecil, berada di dalam keadaan yang lebih buruk dari semuanya: mereka selalu kalah disaingi oleh saudagar besar atau petani kaya. Mereka itu tak pernah mempunyai serap apapun juga; mereka hidup dari tangan ke mulut; sekali saja mendapat kesukaran, sekali saja mendapat kecelakaan, mereka sudah terpaksa menggadaikan harta bendanya yang penghabisan dan menjual hewan penarinya dengan harga yang tiada berarti. Sekali mereka jatuh ke dalam cengkeraman seorang kulak(5) atau seorang lintah darat, maka jarang sekali mereka berhasil meloloskan diri dari cengkeraman itu dan dalam kebanyakan hal menjadi bangkrut samasekali. Setiap tahun puluhan dan ratusan ribu petani dan tukang-tukang kecil mengunci pondok-pondok mereka, menyerahkan tanah pembagian(6) mereka kepada komune desa dan menjadi kaum buruh-upahan, buruh tani, buruh tak ahli, kaum proletar. Tetapi kaum kaya makin bertambah kaya dalam perjuangan untuk uang itu.

 

Itulah sebabnya maka kaum buruh Sosial-Demokrat mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk mengakhiri kemiskinan Rakyat yalah merobah tata aturan-tata aturan yang ada dari atas sampai ke bawah, di seluruh negeri, dan mendirikan susunan sosialis: dengan kata-kata lain, mengambil tanah dari pemilik-pemilik tanah besar, mengambil pabrik-pabrik dari pemilik-pemilik pabrik, kapital uang dari bankir-bankir, menghapuskan milik perseorangan mereka dan menyerahkannya kepada seluruh Rakyat pekerja di seluruh negara. Apabila hal ini dilakukan maka kerja kaum buruh sudah tidak akan dipergunakan lagi oleh kaum kaya yang hidup atas kerja orang lain, tetapi oleh kaum buruh itu sendiri dan oleh orang-orang yang mereka pilih. Kalau demikian, maka hasil-hasil kerja bersama dan keuntungan-keuntungan yang dibawa oleh segala penyempurnaan dan mesin-mesin akan menguntungkan semua kaum pekerja, semua kaum buruh. Kekayaan akan bertambah besar dengan lebih cepat lagi sebab, dengan bekerja untuk diri mereka sendiri, kaum buruh akan bekerja lebih baik daripada jika mereka bekerja untuk kaum kapitalis, hari kerja akan lebih pendek, taraf hidup kaum buruh akan menjadi lebih tinggi, dan segala keadaan hidup mereka akan berobah sama sekali.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

NEGARA
MASYARAKAT TANPA PERTENTANGAN

KELAS KELAS REVOLUSI


F. ENGELS

“Karena negara timbul dari kebutuhan untuk mengendalikan pertentangan-pertentangan kelas; karena bersamaan itu ia timbul di tengah-tengah bentrokan kelas-kelas, maka sebagai hukumnya, ia, negara, lazimnya adalah negara dari kelas yang paling perkasa, yang berdominasi di bidang ekonomi, yang dengan bantuan negara menjadi kelas yang juga berdominasi di bidang politik dan dengan demikian memperoleh sarana baru untuk menindas dan menghisap kelas-kelas tertindas” Seperti halnya negara-negara kuno dan feodal yang merupakan organ untuk menghisap kaum budak dan hamba, demikianlah juga “negara perwakilan modern adalah alat dari kapital untuk menghisap kerja upahan. Tetapi sebagai kekecualian terdapat periode-periode di mana kelas-kelas yang berperang mencapai keseimbangan kekuatan sedemikian rupa sehingga kekuasaan negara untuk sementara waktu memperoleh kebebasan tertentu dalam hubungan dengan kedua kelas itu, seolah-olah sebagai penengah di antara mereka”.

“Jadi, negara tidaklah selamanya ada. Pernah ada masyarakat yang bisa tanpa negara, yang tidak mempunyai konsepsi tentang negara dan kekuasaan negara. Pada tingkat tertentu perkembangan ekonomi, yang tidak bisa tidak berhubungan dengan pecahnya masyarakat menjadi kelas-kelas, negara menjadi keharusan karena perpecahan ini. Kita sekarang dengan langkah-langkah cepat mendekati tingkat perkembangan produksi di mana adanya kelas-kelas ini bukan hanya tidak lagi menjadi keharusan, tetapi menjadi rintangan langsung bagi produksi. Kelas-kelas tak terelakan akan runtuh, sebagaimana halnya dulu kelas-kelas itu tak terelakan timbul. Dengan runtuhnya kelas-kelas, maka secara tak terelakan akan runtuh pula negara. Masyarakat yang akan mengorganisasi produksi secara baru atas dasar perserikatan bebas dan sama derajat kaum produsen akan mengirim seluruh mesin negara ke tempat yang semestinya: yaitu ke dalam museum barang antik, di sebelah alat pemintal dan kapak perunggu”.

“Proletariat merebut kekuasaan negara dan pertama-tama mengubah alat-alat produksi menjadi milik negara. Tetapi dengan ini ia mengakhiri dirinya sendiri sebagai proletariat, dengan ini ia mengakhiri segala perbedaan kelas dan antagonisme kelas, dan bersama itu juga mengakhiri negara sebagai negara. Masyarakat yang ada sejak dulu hingga sekarang yang bergerak dalam antagonisme-antagonisme kelas memerlukan negara yaitu organisasi kelas penghisap untuk mempertahankan syarat-syarat luar produksinya; artinya terutama untuk mengekang dengan kekerasan kelas-kelas terhisap dalam syarat-syarat penindasan (perbudakan, perhambaan dan kerja upahan) yang ditentukan oleh cara produksi yang sedang berlaku. Negara adalah wakil resmi seluruh masyarakat, pemusatan masyarakat dalam lembaga yang nampak, tetapi negara yang berupa demikian itu hanya selama ia merupakan negara dari kelas yang sendirian pada zamannya mewakili seluruh masyarakat; pada zaman kuno ia adalah negara dari warga negara pemilik budak; pada Zaman Tengah, negara dari bangsawan feodal; pada zaman kita, negara dari borjuasi. Ketika negara pada akhirnya sungguh-sungguh menjadi wakil seluruh masyarakat, ia menjadikan dirinya tidak diperlukan lagi. Segera setelah tidak ada lagi satu kelaspun dalam masyarakat yang perlu ditindas, segera setelah lenyapnya, bersama dengan dominasi kelas, bersama dengan perjuangan untuk eksistensi perorangan yang dilahirkan oleh anarki produksi masa kini, bentrokan-bentrokan dan ekses-ekses yang timbul dari perjuangan ini, maka sejak saat itu tidak ada lagi yang harus ditindas, juga tidak ada keperluan akan kekuatan khusus untuk menindas, akan negara. Tindakan pertama, di mana negara benar-benar tampil sebagai wakil seluruh masyarakat –pemilikan alat-alat produksi atas nama masyarakat– sekaligus merupakan tindakannya yang bebas yang terakhir sebagai negara. Campur tangan kekuasaan negara dalam hubungan-hubungan sosial menjadi tidak diperlukan lagi dari satu bidang ke bidang yang lain dan ia berhenti dengan sendirinya. Pemerintahan atas orang-orang diganti dengan pengurusan barang-barang dan pimpinan atas proses produksi. Negara tidaklah dihapuskan, ia melenyap. Atas dasar ini harus dinilai kata-kata ‘negara rakyat bebas’ –kata-kata yang untuk sementara mempunyai hak hidup dalam hal agitasi, tetapi yang pada akhirnya tidak beralasan secara ilmiah–serta harus dinilai juga tuntutan dari apa yang dinamakan kaum anarkis supaya negara dihapuskan seketika”.
“…Bagaimanapun, kekuatan itu, kekerasan, juga memainkan peranan lain dalam sejarah” (kecuali peranan sebagai pelaku kejahatan) “dalam sejarah, yaitu peranan revolusioner, bahwa kekerasan, menurut kata-kata Marx, adalah bidan bagi setiap masyarakat lama yang telah mengandung masyarakat baru, bahwa kekerasan adalah alat yang digunakan oleh gerakan sosial untuk merintis jalan bagi dirinya dan menghancurkan bentuk-bentuk politik yang telah mati dan membatu –tentang ini tak sepatah kata pun dari Tuan Duhring. Hanya dengan menarik nafas berat panjang dan mengeluh ia mengakui kemungkinan bahwa untuk menggulingkan sistim ekonomi penghisapan barangkali akan diperlukan kekerasan– sayang sekali, lihatlah! Karena setiap penggunaan kekerasan katanya akan mendemoralisi orang yang menggunakannya. Dan ini diucapkan sekalipun ada kebangkitan moral dan spiritual yang tinggi yang terjadi sebagai akibat dari setiap revolusi yang menang! Dan ini diucapkan di Jerman, di mana suatu bentrokan dengan kekerasan –yang memang dapat dipaksakan kepada Rakyat– setidak-tidaknya akan mempunyai keunggulan yang menghilangkan jiwa membudak yang telah merasuk ke dalam kesadaran nasional akibat perasaan terhina …”