Selamat Datang Kawan di WebBlog Para Pembebas

Archive for September, 2007

NETRALITAS PENDIDIKAN KAMPUS


——- SAMBUNGAN ——-

 

NETRALITAS

PENDIDIKAN

(KAMPUS)

 

KEADAAN Netral, karena Sengketa Bukan dalam Kesamaan.

 

     – Bertikai;

     – Berperang ;

     – Berseteru;

 

Terjadi hanya dalam Politik.

 

Bagaimanakah Netralitas Pendidikan ‘di mana pun’ mengenali Pertikaian,Peperangan, Perseteruan Isme- Sosial versus Kapitalisme ?

 

Jelas Kampus TEMPAT Pertempuran Dasyhat … !

 

Terserah, yang Berbuat – Mempolitisasi. Rasional Kepekaaan- Batini membuktikan Kebenaran Sosialisme. Tidak Yang Lain.

 

 

 

SELESAI

 


SUATU AJAKAN POLITIK


SUATU AJAKAN POLITIK

(Membenarkan

Pemiskinan atas Rakyat atau kembali

BERJUANG)

M E M B E B A S K AN

 

SEMENJAK dulu memang Politisi politisi Kampus Muda, Rasional -Kiri. (Hanya LMND) Tetap Setia – Juang (sudah dalam Kepartaian).

 

Dari Kampus, Jalanan ke Partai untuk MemperjuangkanKekuasaan Rakyat Miskin.

 

1. Rasional – logik Dialektis

 

2. Nasional

 

3. Utopia, “TeoritikalPolitis”

 

Persatuan (Nasional) Rakyat Organisme Masyarakat -Politik.

 

Bentuk bentuk Perjuangan

 

1. Nasional – Kerakyatan (Ajaran)

 

2. – Anti Tyranism

    – Anti Modalis

    – Anti Kapitalism

 

3. Massa – AksiMassa

 

Karena PolitikKampus menghasilkan Pengetahuan Isme – Sosial jua …

 

Ketika Para Pembebas bersiap Menyambut “KEBARUAN ZAMAN MANUSIA”.

 

1.Berpikir

 

2. Rakyat Yang Miskin

    Berkuasa.

    Isme – Kemanusiaan Sosial

 

3. Re – Evolutif (Alam)

 

— o0o—

 

MUDA,

 

Lebih dulu di Depan

 

– Melawan

– Dekat di Tujuan (lihat)

– Bertarung, dilaksanakan (Politisasi)

 

RASIONAL

 

– Pemikiran, Logika “dalam Dialektika” (Materialisasi)

– Rasa – Aturan aturan Sosial, Batini

– Keadaan -Politik, Hasil

 

ISME- SOSIAL KIRI

 

Tidak lagi lepas dari Sosialisme. Tegas, dinyatakan Kiri.

 

Kawan Mahasiswa – mahasiswi mempersiapkan StudiPolitik – Krisis. Studi Keilmuan (Pikiran) untuk Masyarakat. Politik “Krisis”, yang dihasilkan Logika. Berlangsung Materialisasi dalam Hubungan Mahasiswa- Masyarakat dan Parlemen.

 

1. Manusia, Pemikiran ke Nyata. Bertujuan Kekuasaan Rakyat Miskin.

 

2. Pendidikan

 

3. Kesopanan,Hasil Uji -Ilmiah, yang dipakai terus. Ke Depan. Progresif. Bukan jadi Sampah Tulisan – Ilmu.

 

Dibutuhkan Politisasi Ilmu – Pengetahuan Teori membentuk Masyarakat berdasarkan Filsafati Logika Dialektika.

 

Suatu Tujuan Pengetahuan Bukan untukPenguasaan namun Pengabdian Kebenaran …….

 

— o0o —

 

Kapan – Bagaimana diterapkan Kebenaran Isme – Sosial dari Utopiake Politik. Lalu, apakah Kausalitas- Dialektika Keilmuan. Mengajukan “Pemikiran – Dasar” Tujuan, yang akan Dicapai.

 

Dari Kemanusiaan untuk membentuk Kekuasaan Rakyat Miskin.

 

Membebaskan Pembodohan atas Manusia … !

 

Membebaskan Kehinaan Perempuan Sosialis ……. !

 

Membebaskan Lapar, Kemiskinan – Anak anak di Dunia ….. !

 

 

 

— BERSAMBUNG —

 

 

 

 


NASIONAL ISME – SOSIAL


NASIONAL ISME – SOSIAL

 

APAKAH Nasionalisme karena ada ‘Negara’ (Hukum buatan) Politik ? (Ya. Atau, Tidak).Memang, bisa ya-tidak.

 

Sedangkan Kesatuan Wilayah wilayah masyarakat terpolitisasi Isme – Nasional.

 

Biarpun ada Negara – Ide (Konsep)

 

     – Wilayah

     – Masyarakat, Kepemimpinan – Pemerintahan

     – Parlemen

 

Nasional Isme – Politis karena Kedaulatan Rakyat dalam Pasal pasal Konstitusi.

 

Bentuk bentuk Perjuangan

 

1. Kemerdekaan

 

2. Demokrasi, Pemerintahan di Negara

 

3. Anti Imperialisme

 

4. Rasionalisasi Sumber Alam

 

5. Keadilan

 

6. Reformasi Pertanian

 

7. Kebudayaan

 

— o0o —

 

Menjadi ‘Negara’ Sosial akan berlangsung

 

1. Kekuasaan Rakyat (Politik)

 

2. Isme – Sosial

 

    a. Membentuk Masyarakat Sosialisme

    b. Anti Kapitalis

    c. Pertanian- Budaya Pangan

 

3. Utopia ke Politik (Materialisasi)

 

Pemerintahan yang akan Terbentuk -Kemasyarakatan Bukan Lembaga. Proses Demokrasi dari Historikal Kemerdekaan.

 

     – Kesatuan Wilayah Masyarakat

     – Pemerintahan Yang Demokratik

     – Jaman Baru, Adil

 

Pemilihan berdasarkan Kedaulatan (Rakyat – Suara). Dipersiapkan untukParlemen Nasional.

 

1. Keanggotaan

 

2. Masyarakat bentukan Politik

 

3. Kepartaian

 

— o0o —

 

Pemikiran – Dasar Sosial dari Kepartaian

 

1. Kemanusiaan

 

2. Kerakyatan

 

3.Kemasyarakatan

 

Partai yang’ Kiri’. Kausalitas Dialektika Manusia – Kerakyatan – Alam.

 

(Sebab)

 

1. Rakyat Yang Miskin (Politik)

 

2. Membebaskan (Akibat)

 

3. Persatuan Rakyat (= Nasional)

 

Perjuangan Isme – nasional menjadi Nasional isme Kepartaian.

 

1. Konsepsi ‘Negara’, yang Berkedaulatan Rakyat (= Parlemen Nasional)

 

2.Kepartaian

 

3. Sosialisme dalam Pelaksanaan Demokrasi

 

 

 

SELESAI

 

 


PEREMPUAN – KAUM SOSIALIS


PEREMPUAN KAUM SOSIALIS

MENYONGSONG

PEMILIHAN

 

SIKAPYANG JUJUR

 

 

 

BEBERAPA Dasar Politik Sosialisme dalam Pembebasan, a.l.

 

1. Materialisasi Pemikiran Kemanusiaan

 

2. Membebaskan

 

3. Dari Utopia ke Politik

 

4. Persaudaraan

 

5. Tujuuan Kekuasaan Rakyat

 

6. Kepartaian

 

7. Nasional-Wilayah wilayah

 

Pernahdibahas(rinci). Tiga dari tujuh di Tulisan kini, yang akan terangkai – Politis.

 

1. Dari utopia ke Politik

 

2. Membebaskan

 

3. Persaudaraan (dalam Kekeluargaan)

 

Salahsatu Thema Perjuangan Sosialis Perempuan Kiri. Lalu, tampakKejujuran menjadi Sikap Perempuan Sosialis.

 

1. Logika – RASA Batini(Kepemimpinan- Manusiawi)

 

2. Pengorbanan – Suci. Kelahiran.

    Berjuang.

    Penerusan Kemanusiaan – Sosial.

 

3. Kekeluargaan (= Rakyat, yang

    Berdaulat).

    KEBARUAN “ZAMAN MANUSIA”.

 

— o0o —

 

Membebaskan …….

 

1. Dari Pembodohan Akal, Didustai

 

2. Dari Pemiskinan, yang Disengaja

 

3. Dari Pengrusakan Jiwa, Dipolitisasi

 

4. Dari Penderitaan Kelaparan, Disiksa

 

5. Dari Penguasaan (Nafsu), Dipaksa

 

— o0o —

 

Berlangsung, terlihat … duamata Perempuan (Menangisi … !). Di benak. Bukan Pendustaan tetapi Kejujuran Kita.

 

Utopia Isme- Sosial ke Politik. Materialisasi ! Dalam Logika Dialektika.

 

1. Rakyat Berkuasa kembali

 

2. Diperjuangkan – Resmi. Di Masyarakat(Partai).

 

3. Negara – Ide (Konsep)

    Nasional

    Kesatuan- Wilayah wilayah

 

Kesadaran Perempuan Sosialis, berdasarkan Politik, menolak Kemalangan ! Bukan karena Anak anaknya Bodoh, tetapi DICURANGI.

 

1. Permainannya

 

2. Dengan Mengancamnya (Tubuh)

 

    a. Penyakit. Nafsu -Kebendaan

    b. Dibiarkan Lapar

    c. “Politik buatan” – Hukum

    d. Ditangkap (Penjara)

    e. Kekasaran Politik – TEROR

 

3. Kebenaran – Falsafati. Logikanya

 

Bukan Pemerintah Demokrasi Terbentuk, namun Hukum, yang Berisi KEKUASAAN Negara dalam Kelembagaan Kedirian – Sosok.

 

‘Memerintah’,

 

1. Administrasi.Jadi ‘Goverment’

 

2. Setempat. Jadi Daerah

 

3. KeLuar. Jadi Bangsa

 

— o0o —

 

Dua jaringan Penguasaan

 

     – Lewat Pemilihan di ‘Negara’

 

     – Perwakilan

 

mempolitisasiKaum Perempuan/ Ibu. Maka Harapan Perempuan dijadikan Material. Menjual, Diperdagangkan.(Suara – Kursi – program).

 

Isu – Kontra Isu Gender, Pemimpin. MENJEBAK ! Dalam Ekonomisasi Kemasyarakatan.

 

1. Perempuan. Kerja – Manajerial. Jabatan, Uang.

 

2. Perburuhan

 

    – Usia Kerja(Malam)

    – Kemiskinan.

       Pengupahan Tidak Hitung Anak anak.

       (Marginal)

    – Masalah Pemukiman Layak

 

3. Pembatasan Daerah Kependudukan (KAM – Alasan)

 

Dampak Pemiskinan pun kini membebani Perempuan Kaum Sosialis

 

1. Urban Perkotaan Moderen

 

    – Miskin

    – Pergundikan Bawah Usia

    – Penggusuran

 

2. de -Politisasi Sosial Ekonomik

 

    – Pengangguran

    -PHK (Sepihak) Kehilangan Hak Ekonomi

    – Rentenir

 

3. Gadungan. Pemilih – Bayaran

    (Melanjutkan

    Floating Mass- Perempuan)

 

    – Perempuan Tua Renta

    – bin, Nama Suami

    – PNS

 

— o0o —

 

Negara – Ide Sosial DIAJUKAN. Politis ! Menyekat. Dari Demokrasi ‘akan bisa jadi’ Kekuasaan – Hukum

 

Pembebasan mengarah ke Pembentukan

 

1. Masyarakat – Politik (Partai)

 

2. Parlemen, Sosialisme

 

3. Pemerintahan Yang Demokratik

 

Dipersiapkan Menyongsong Pemilihan 2007. Bersama. Menuju Kekuasaan Rakyat Miskin.

 

Penganuti Isme – Sosial Kaum Perempuan memperjuangkan

 

1. Sosialisme – Negara

 

    a. Nasionalisasi Industrial -Pertambangan

    b. Pekerja – Kelas Buruh dan Keluarga

    c. Wilayah wilayah Pangan

 

2. Kepemimpinan dalam Masyarakat

 

3. Pemilihan Kerakyatan- Suara

 

    a. Pemilih Kita (Nasional)

   b. ‘Membentuk’ Parlemen

   c.Kepartaian, Isme – Sosial

 

— o0o —

 

Tidaklah Kekejaman – Massa mencapai Tujuan ! Kita kah ? Bukan ….. !

 

1. Chauvanism

 

2. Massa – Bayaran (Luar)

 

3. Anti Sosial

 

4. Tujuan Isme- Liberal

 

5. “Perintah”

 

 

 

SELESAI

 

1.

 

 

   

 

 

 


LIBERAL ATAU PEMBEBASAN


LIBERALISME – PERMODALAN

ATAU

PEMBEBASAN

 

PEMAHAMAN Kebebasan dalam Politik, yang dianuti

 

     1. a. Liberal

         b. Perdagangan

 

     2. Isme Sosial – Pembebasan

 

Berbeda Pelaksanaan untuk Tujuan. Bentuk bentuk Pemerintahan akan terpolitisasi, menjadi

 

     1. Bentukan “karena Hukum”

 

     2. Parlemen

 

     3. Pemerintahan Yang Demokratik

 

Dibentuk dari Pemilihan – Demokrasi. Ada Pemilih. Kepartaian dan “Negara”. Politik suatu Kenegaraan.

 

Ekonomisasi Keuangan, yang Dicetak, membedakan Politik Kebebasannya (= Manusia).

 

Walaupun Isme – kebebasan Liberal dan Perdagangan melaksanakan Hukum Kemanusiaan (Human Rights). Terlihat Tiada Hak – Sosial.

 

— o0o —

 

Melaksanakan Keuangan (tercetak – Bahan, Alam) tetapi Bertujuan Perlabaan Ekonomik Tak Membagi. Antara Manusia ke Manusia. Dalam Kebebasan Perdagangan Liberalisme.

 

Keuangan Terpakai, menjadi “Modal”, namun Non – transaktif, Berlaba !?!

 

Berdampak

 

     1. Monopoli Barang – Jual

 

     2. Imperialis – Penjajahan Ekonomi

 

     3. Kolonialisme – Moderen

 

Sebab Ketergantungan Alam, memerlukan Pembelian “atas Hak”. Dipaksa, melepaskan. Karena, Kekuasaan “buatan”.

 

Membatalkan ? Bagaimana mungkin Kekuasaan sudah “Hukum”, terbentuk. dalam hubungan antara Pemerintah, Demokrasi – parlemen.

 

     Contoh ‘Kejadian Politik’

 

     Nyaris, Kegagalan Alexander Agung ketika Membebaskan Masyarakat di “Daratan Taklukan”.

 

     Mengapa ?

 

     1. Tidak ada Dukungan untuk Figur

 

     2. Pedagang pedagang yang ‘Dipekerjakan’

         Menuntut

         Perjanjian dengan Masedonia

 

        (Bentuk Negara ‘Seriukat karena Parlemen’.

 

     3. Ancaman Kaum Miskin

 

— o0o —

 

ISME – PEMBEBASAN

 

Pembebasan bukan Karena didasarkan Nafsu, Figur (Niat). Walaupun melalui Kepartaian.

 

     1. Kemanusiaan

 

     2. Rakyat Yang Miskin Berkuasa (Politik)

 

     3. Tujuan (= isme) Membebaskan – Sosial

 

Maka, Sosial – Isme Pembebasan untuk Kemanusiaan, diperjuangkan Hak Sosialnya (tanah) These – Alam Nasional – Wilayah wilayah.

 

Ekonomisasi Pertanahan untuk Industrialisme

 

     – Sumber sumber Alam (bahan Baku)

     – Lingkungan Industrialisme dan Tempat

     – Laba Produksi (Alam) untuk Perburuhan

     – Manfaat Barang barang Kebutuhan Masyarakat

     – barterisasi di “Perdagangan Dunia” Hasil Perindustrian

 

Keuangan Negara, yang Terpakai (Kegunaan, samadengan Privatisasi – industrialism), berdasarkan Transaktif – Sosial Politis.

 

Hak Sosial di Perdagangan mengacukan “Azasi Kemanusiaan” – Ekonomik.

 

— o0o —

 

Sehingga Kebebasan Politik diterjemahkan “MEMBEBASKAN” (Manusia). Rakyat Yang Bebas Berkuasa. Dalam Aturan aturan Sosial – Alam.

 

     1. Sosial – keuangan Ekonomi

 

     2. Produksi, Nasional – Alam

 

     3. Pertanian – Budaya Pangan

 

Sedangkan rasionalisme – Waktu dari Keuangan, yang Beredar dan dilaksanakan ‘Masyarakat Bentukan’ (Isme – Sosial) Politik Kepartaian.

 

 

 

— SELESAI —

 

 

 

Catatan

 

Sekali lagi dan

Berulang ulang

Dinyatakan

Ini, Bukan Pembicaraan Teoritikal, tetapi

 DARI UTOPI KE POLITIK

(Materialisasi)

SOSIAL – ISME PEMBEBASAN

 

 

 

BERTAHAN,

SIAP

MENYERANG

MEMBEBASKAN

MELAWAN

 

 Karena, Terlalu Lama

 

PEMISKINAN ATAS RAKYAT DI SELURUH DUNIA

 

 


PEMIKIRAN KAWAN – LAWAN


ANTARA PEMIKIRAN KAWAN

ATAU

NIMBRUNG DIPERMASALAHAN LAWAN

 

Dari penulis Tamu

 

 

 

MASALAH bisa saja jadi jawaban. Dari Mulut Lawan. Bukan persoalan kita songsongPemilihan nanti.

 

Lawan tidak sedang mengecoh. Nyaris Kita masuk dalam Permasalahan(masalah masalah) Lawan. Mengecoh pun tidak sedang juga. Manakah yang lawan ? Pasti yang sedang DILAWAN, BERBUAT (= Politik) Menghancurkan Kita.

 

— o0o —

 

     Sementara masalah Kita bukan Masalah masalah Lawan. Perjuangan Kita adalah Kerakyatan di INDONESIA.

 

Antara Kita -Lawan berbeda. Maka Rakyat Bukan Permasalahan Lawan.Mungkin kah Wajar Pemiskinan atas Masyarakat ? Nyaris, Terkecoh ! Huh ! Tidak … Bukan tidak wajar MEMBEBASKAN RAKYAT DARI PEMISKINAN.

 

Berdampak Keuangan – Jaringan jaringan (dan Asset) Lawan TIDAK BOLEH DIPERGUNAKAN (Retorika). Ini, Kewajaran. Ada Sebab- Akibat dalam Perbuatan Dialektika Kita- MELAWAN !

 

     Ketika RAKYAT akan BERKUASA. Lawan MENGHANCURKAN … RAKYAT YANG MISKIN.

 

     Kita tidak masuk dalam masalah Keuangan Lawan.

 

     Namun Kita yang DITUDUH MENJADI MASALAH (Penghancur) Rakyat. Wah ! Nyaris Kawan Tidak DIWADAHI dalam Perjuangan Kita. Bahwa Keuangan – Asset Lawan agar HANCUR SEKETIKA.

 

     1. Dalam Industrialisme ;

 

     2. Perbankan ;

 

     3. Karena KURS – HUTANG LUAR NEGERI ;

 

     Tetapi, hati hati … Banyak Tanah Rakyat yang DIJAMINKAN. Masalah Kita – Lawan kah ???

 

— o0o —

 

Tujuan Politik Kita, Isme – Sosial Bukan Individual. Keuangan- Jaringan jaringan Perdagangan – Asset, ternyata INDIVIDUALISME- Modalist. Bukan untuk Bunga Perbankan, tetapi Strukturalism.

 

Bagaimanakah Kemauan Masyarakat – Politis melaksanakan termaksud ? Rasionalisme- Waktu dalam Keuangan Negara Sosial.

 

Suatu Masalah akan TERSELESAIKAN dalam Tautan – Urut- Mundur ‘DARI SEBAB DARI’. Berawal dari Tidak Melaksanakan (Materialisasi) dari Logika. Dari Sebab -Akibat maka ‘ Hasil adalah Perbuatan (Sebab jua). Terjadi Dialektika yang Rasional. Tidak Sylogis, ada atau tanpa Premis – Tunggal. Perbuatan lah … menyelesaikan (Historikal). Jadi rangkaianLogika – teoritisPolitikal (baca, ‘Keadaan’).

 

     Revolusioner ……. !

 

     Terlihat masalah masalah Bukan Hambatan namun Proses saja …

 

 

 

— o0o —

 

 

 

 


ISME SOSIAL & PEMBEBASAN


ISME SOSIAL -PEMBEBASAN

KEPARTAIAN

KONTRA – ISU (RETORIKA)

 

DALAM Hubungan antara Isme Sosial -Pembebasan ditemukan Rangkaian Pembahasan Thematis.

    

     Falsafati        Logika ‘dalam Dialektika’, These – Alam ke Syntehese (Manusia)

 

     Politik             a. Utopiake Politik (=Materialisasi) ;

                                b. Nasional – Wilayah wilayah ;

                                c. Kekuasaan Rakyat Miskin ;

 

     Kepartaian

 

— o0o —

 

Partai mempersiapkan

 

     1. a. Negara -Ide (Sosial) ;

         b. Pemerintahan ;

         c. Kesatuan (Isme – Nasional, Pemahaman) Federalis ;

 

     2. Parlemen

 

     3. a. Masyarakat (bentukan) Politik ;

         b. Kepemimpinan ;

         c. Kependudukan, Pemukiman – Buruh ;

 

     4. Pertanian Wilayah wilayah Budaya – (Pangan);

 

     5. a. Nasional-Industrialism (Pertambangan) ;

         b.Laba – Produksi, Buruh ;

         c. (Lembaga)Keuangan Sosial ;

 

     Karena

     Dasar – Pemikiran Sosial

     (Isme)

 

     1. Manusia – Akal, Alam ;

 

     2. Kerakyatan ;

 

     3. Aturan aturan Sosial (‘Rasa’ – Batini) ;

 

     Dari Kemanusiaan – Partrai diberikan HAK SOSIAL (politis) MEMBEBASKAN Berdasarkan Kerakyatan dalam Aturan Aturan Sosial.

 

— o0o —

 

     Menuju Sosial(isme) Pembebasan Manusia.

 

     1. Pembodohan

         Didustai

         Pemikiran Kebenaran Manusia ;

 

     2. Individualisme – Penguasaan;

 

         a. Tanah ;

         b. Kebutuhan kebutuhan Masyarakat ;

         c. Pangan ;

 

     3. Pemiskinan karena Ekonomik Kapitalisme ;

 

     4. Kehinaan atas KEIBUAN

          Diakibatkan

          Derita Pemiskinan Penduduk ;

 

     5. Tidak – Adil, Liberalisme Politik ;

 

 

 

SELESAI

 


‘NEGARA’ – IDE SOSIAL


TIDAK

NEGARA – ‘HUKUM BUATAN’

NAMUN …….

 

‘NEGARA’ – IDE SOSIAL

 

TYRANISM dan Para Filsuf pernah bertengkar, ditangkap lah Pemikir pemikir Sosial. Menuduh, memenjarakan, atau memenggal leher mereka, putus … Dalam Tuduhan Hukum (Tanpa Peradilan) Makar Negara.

 

     Lolos, berlayar. Kelaparan. Di atas Kapal Kayu. Bersuci. Dari Pemurtadan Akal.

 

     Terkenangkan …….

 

     Hamparan luas Pertanian menjelang Panen Kuning – Emas. Di atas Pepucuk Tanaman Pangan Rakyat.

 

     Dibabat ! Tiba tiba saja …

 

     Sentakan kuat di Batini, melihat bertumbuk disimpan MAKANAN MANUSIA di PERGUDANGAN.

 

     Terkejut ……. !

 

     Kaum Miskin Kota bergentayangan. Lapar … Mengidap Penyakit. Dituduh – diusir – diludahi (karena) cari makan.

 

     Petani petani mulai tua sabar mengajarkan Muda Yang Kuat. Diolah, Tanahnya Sosial – Kemanusiaan. Berkeringatan. Untuk siapakah nanti sesudah Tyranism LENYAP karena Perseteruan – Sesama ? Tengkulak dan Pedagang menunggui … Tentu Piaraan Kapitalis.

 

     Perempuan perempuan Tua di Pedesaan masih rajut impian. Terkekeh kekeh memandangi langit digapai …….

 

     Entah lah di balik Kebiruan. Menanti. Tetes tetes Air Kebeningan – hangat …

 

— o0o —

 

     Kami semakin tua. Membacapikirannya. Didengarkan Batini. Berbicara. Mencari … Hasil – Dialektika ‘Nyata Yang Utopis’.

 

     Ada ! ‘Akan’, ada.

 

     Tetap di Pemikiran jua – Ada Masyarakat Bukan Kelompok kelompok dari Onggokan Individual – isme.

 

— o0o —

 

     Yang dimaksudkan ‘Sosial’ (Dalam Tulisan Pembebasan) :

 

     1. Masyarakat ;

 

         a. Kekeluargaan ;

         b. Masyarakat – Politis (Bentukan) ;

 

              – Wilayah wilayah Kesatuan ;

              – Materialisasi Politik Kekuasaan Rakyat Miskin ;

              – Kelompok kelompok Nasional ;

 

          c. Bangsa, Kependudukan, yang Beradab ;

 

     2. Aturan aturan Sosial ;

 

     3. Pertanian ;

 

     Berdasarkan Isme – Sosial Kemanusiaan (Bukan Individualis) menuju Kesejahteraan, Adil – Makmur.

 

     Akibat akibat Politik – Masyarakat

 

     1. Negara – Ide (Konsep) ;

 

     2. Parlemen (Rakyat – Masyarakat – Partai, Keanggotaan) ;

 

     3. Kepartaian Nasional – Persatuan ;

 

 

 

Sekian.

 

 

 

TAMBAHAN

‘POLITISASI KEADAAN’ – EKONOMI

 NEGARA

 

     Tiga masalah Perekonomian ‘atas Negara’ – Sosial

 

     1. Dibuat (kapitalisme – Perdagangan) ;

 

         a. Menjual Hasil Nasionalisasi – Industrial ;

         b. Rekayasa Politik Dunia

             menghadapi

              Tujuan Sosial Ekonomik ;

 

     2. ‘Pelaksanaan Rasional’ Keuangan ;

 

     3. Menyusun Anggaran HAN – Pertanian ;

 

         a. Daerah daerah HAN – Pertanian ;

         b. Kekuatan Tanah (Cadangan) ;

         c. Industrialisme Penunjang Tanam – Pertanian ;

 

     Dibahas dalam Kepartaian – Parlemen, mengacu Perjuangan Sosialisme.

 

     Pemerintahan Bukan Alat – Partai tetapi Wadahan Sosial – Politis untuk ‘melaksanakan’. Syanthese – Logika terhadap These – Alam dalam Materialisasi Ekonomik.

 

     Manusia Bertahan di Masyarakat. Merancang suatu Keadilan – Sosial. Lalu, Berbuat (Kerakyatan).

 

     Pertanian, Ekonomisasi – Keuangan terpolitisasi Logik – Dialektis – Alami …….

 

     Tantangan – Pengacauan Hambatan Kapitalisme akan dibenturkan Kekuatan Dasar Sosial.

 

     1. Sosialisme – Politik ;

 

     2. Pertanian – Budaya Pangan dan HAN ;

 

     3. Aturan aturan Sosial ;

 

     Kerjasama Partai – Kelompok kelompok Nasional dipersiapkan. Membentuk Pemerintahan – Kelembagaan (= Govermental).

 

Negara – Ide Sosial, berkedaulatan Rakyat secara Admnistrasi Politik (= Keputusan).

 

 

 

— o0o —

          

 

 


PERTANIAN – HAK SOSIAL


PERTANIAN

DAN

KEPEMILIKAN (HAK) SOSIAL

 

Pembebas

 

PERTANIAN – Budaya Pangan, terbentuk karena Manusia telah membutuhkan ‘makan’, dikerjakan lah Pertanian (di Tanahnya, Budaya).

 

     1. Usaha, olah – Tanah ;

 

     2. a. Tanam (Bibit) Padi ;

         b. Mengairi ;

         c. Beri Pupuk (Sawah) ;

 

     3. Panen, Padi – Gabah ;

 

     Berlangsung Proses, dari Bibit – Padi, Gabah (= Bibit). Di atas Tanahnya … adalah, Manusiawi.

 

     Dalam Tujuan suatu Materialisasi These – (= terhadap) Alam untuk Pangan.

 

     Terpolitisasi …….

 

     1. Kekuasaan Rakyat atas

 

         a. Kepemilikan (Hak) Sosial ;

         b. Wilayah wilayah ‘Tanam’ ;

         c. Kebutuhan kebutuhan Masyarakat ;

 

     2. Karena, ada ‘Negara (HAN – Pangan) ;

 

     3. Suatu Pemerintahan – Sosial ;

 

         a. Mengadakan

             Wilayah wilayah Tanam ;

         b. Penyaluran (bukan Jualan) Pangan ke Masyarakat ;

         c. Mempersiapkan

             Cadangan Beras (Permusiman) ;

 

     Ini lah, Sosialisme. Politik Kemasyarakatan – Manusia. Dalam Negara – Ide.

 

Hubungan antara Pertanian – Kapitalisme

 

     Sosialisme adalah Masyarakat (Kemanusiaan). Beda Individualisme. Bertentangan dan saling (tetap) menghancurkan … dalam Ekonomisasi – Politik. Individualisme melaksanakan Penguasaan atas Kemasyarakatan.

 

     1. Kenegaraan ;

 

     2. Keuangan

         Industrialisme – Perdagangan,

         Pemerintahan ;

 

         Bersama di dalam Kapitalisme ;

 

     3. Alam, Wilayah wilayah ;

 

     Sehingga Masyarakat banyak Kehilangan Hak Sosial atas Lahan lahan Pertanian di Dunia.

 

     Karena, antara lain

 

     1. Manipulasi Kepemilikan “Tanah” ;

 

          a. Pemukiman

              Daerah, Kota, Pedesaan

              (Kependudukan) ;

          b. Sumber sumber Alam ;

          c. Wilayah wilayah Pangan untuk Masyarakat ;

 

     2. Politik – Hukum, Keperdataan

         ‘Negara’

         Jaminan untuk Penghutangan ;

 

     3. Perjanjian dengan Kebangsaan

         (Asing)

        Ekspansi – Imperialisme ;

 

     Feodalisme masih jadi ‘Penyimpanan’ Surat surat Tanah Rampasan atas nama Kerajaan kerajaan masa lampau (= Vazal vazal).

 

     Kapitalisme tidak berniat untuk menjadi Petani. Tetapi, Pertanian diperlukan.

 

     1. untuk Dijual (Hasil) ;

 

     2. untuk Perburuhan (Pangan) ;

 

     3. untuk Dijaminkan (Tanahnya) ;

 

— o0o —

 

KEPEMILIKAN (HAK) SOSIAL

 

     Suatu Hubungan Kemanusiaan – Tanah – pertanian, terjadi

 

     1. Kepemilikan (Hak) Sosial

         atas

         Lahan lahan Pertanian ;

 

     2. Dibagikan

 

         a. Wilayah wilayah Tanam ;

         b. Jumlah ;

         c. Hasil dari Usaha ;

         d. Cadangan ;

         e. atas suatu ‘Hak’ ;

 

     3. Pengairan (Terpadu, Kemasyarakatan) ;

 

     Mengacukan Sosial – Utopia, yang didasarkan Aturan aturan Sosial, Mematuhi. Dalam Kepartaian (Politik).

 

     1. Kemanusiaan ;

 

     2. Diperjuangkan (Masyarakat) ;

 

     3. Materialisasi dari Logika ;

 

     Ketika Manusia tetap Berbuat, dan Melawan, karena DIMISKINKAN (= KELAPARAN), menjadi Politik Kekuasaan Rakyat.

 

— o0o —

 

UPAH KERJA TANI

 

     Pengupahan suatu gejala Sosial – Keuangan, yang Ditransaksikan.

 

     1. Upah Perburuhan – Industrialism ;

 

     2. Upah Kerja Tani ;

 

     3. Upah Perkebunan (di Pulau pula kecil) ;

 

     4. Upah Tenaga Kasar ;

 

         a. Pelabuhan ;

         b. Kerja Bangunan/Tukang ;

         c. Kuli ;

 

     5. Upah Pekerja – Kontrak ;

 

     Dibedakan Upah Perburuhan, karena berhubungan dengan Produksi – Laba (Politisasi Ekonomik).

 

     2 (dua) Pengupahan

 

     1. Tenaga ;

 

     2. Dilaksanakan

         Pembayaran – Ekonomis (Treansaktif) ;

 

     Upah Kerja Tani, didasarkan

 

     1. Waktu Kerjasama untuk Hasil ;

 

     2. Tidak Bergantung Jumlah. Berapa banyak Tenaga.

    

     3. Hubungan Pembayar – Kerja

          dan

          Tenaga (dalam Pertanian) ;

 

     Pertanian – Budaya Pangan memungkinkan Upah Kerja Tani. Karena beberapa alasan

 

     1. Kenaikan Penyaluran (Rasional) ;

 

     2. Luas Persawahan, yang Dikerjakan ;

 

     3. Perbedaan Masa Tanam ;

 

     Dibayarkan Pemerintahan Sosial (di Daerah) dan atau Masyarakat Setempat.

 

 

 

Selesai

 

 

 

 

 

 

 


MUDA YANG DI DEPAN


MUDA YANG DI DEPAN

 

MEMBEBASKAN

 

 

 

MUDA yang di Depan maka lebih dulu

 

     1. Mengalami ‘Keadaan’ ;

 

     2. Mendekat ke Tujuan ;

 

     3. Menghadapi Masalah ;

 

Harapan, Kekecewaan, Niat, bergalau di Benak. Situasional, Logik.

 

     Walaupun dalam Kesederhanaan “bentuk” Perjuangan, namun tidak akan Kekurangan. Ini, suatu alasan Politis (= Muda).

 

     Tanpa Pelatihan hanya didasarkan Tujuan.

 

     Militan … !

 

     Kuat. Berpikir. Revolusioner. Melaksanakan Niat. Dipersucikanlah Ibu Mereka selalu …….

 

— o0o — 

 

     Kita siap akan ‘reksiko’, yang ditimpakan !

 

     1. Menghadapi Rancangan Politik ‘Kekerasan’ ;

 

     2. Rangkaian Bujukan Ekonomik

         Perdagangan

         Kapitalisme – Individualis ;

 

         a. Ketergantungan Uang, yang Dicetak ;

         b. Iming ‘Material’ – Konsumtif ;

         c. Rangsang Hedonisme, Dipertontonkan ;

 

     3. Mengalami

          Kekecewaan Politis, karena

          Didustai ;

 

     Dalam Pemahaman Kekuasaan, Dianuti (Rakyat Yang Miskin).

 

     Sosial, tidak Individualisme. Dalam membentuk Pemerintahan di Negara – Ide. Biarpun Istilah Kedaulatan Rakyat sudah teroperkan. Karena Politisasi Ekonomik.

 

     Atau, Kepemimpinan jadi Penguasaan (argumen).

 

— o0o —

 

     Muda di Usia namun sedang Capai Tujuan. Bertarung ! Terbentur Waktu, menua … Dilanjutkan jua !

 

     Membebaskan ……. !

 

     Sampai Rakyat kembali Berkuasa. Di Masyarakat. Tersenyum lah … Menertawakan ‘Piaran’  Kapitalisme di seluruh Dunia Kini – Nanti.

 

     Karena,

 

     Suatu Keadaan – Politisasi mencapai Tujuan (Sosialisme) dalam (Filsafati) Logika, adalah, Kemanusiaan.

 

     (Berdasarkan)

 

     1. Pemikirannya. Kausalitas – Dialektika ;

 

     2. Batini ;

 

     3. Aturan aturan Sosial ;

 

     (Akan) Terwujud rangkaian ‘Kegiatan Pikirannya’ dalam Berbuat, dana melaksanakan …..

 

     SATU Pemikiran Kita … !

     SATU Politik Kita

 

          – Berbicara ;

          – Berharap (Utopia – di Kenyataan) ;

          – Berbuat ;

 

     SATU Tujuan Kita.

 

 

 

Selesai.


SOSIALISME – DUNIA


SOSIALISME – DUNIA

DAN

PEMERINTAHAN DEMOKRATIK (SOSIAL)

 

KELANJUTAN Perjuangan Demokratik dalam Kemasyarakatan (Re – Form), terjadi lah

 

1. Keadaan Demokratik – Sosial ;

 

2. Politik Demokratik Negara ;

 

3. Borjuasi – Demokratik (isme) ;

 

dalam Historika – logika, berdasarkan Materialisasi – Kekuasaan Rakyat.

 

     (premis)

 

     Ketika ada ‘Kenegaraan’ (Negara negara)

 

1. Wilayah wilayah (Sebab, These – Alam) ;

 

2. Masyarakat, terbentuk (Akibat)

 

     a. Tujuan Sosialisme ;

     b. Kepartaian ;

     c. Negara – Ide (Konsep) ;

 

3. Pertanian – Budaya Pangan ;

 

     Maka, Berdampak :

 

1. Beberapa masalah Politis ;

 

     a. Rusak Ekonomi – Lama ;

     b. Pembaruan Industrialisme ;

     c. de – Politisasi Nasionalisme ;

 

2. HAN – Pengendalian KAM ;

 

3. Pertukaran, Diplomasi  – Internasional (Keuangan) ;

 

     Melalui

 

     a. Partai partai – lama (karena, Demokrasi) ;

     b. Pemerintahan – Transitif (= Wewenang) ;

     c. Tradisional Pembicaraan – Budaya ;

 

     Sikap Demokratik (Partai) menekankan Tujuan PEMBEBASAN RAKYAT YANG MISKIN, ditetapkan untuk Penyelenggaraan ‘Negara’.

 

     Bernegara – Ide Politis (konsepsi).

 

     Usaha Pembentukan Masyarakat, dilaksanakan (Dialektika), mengadakan Saluran saluran Revolusioner Kepemimpinan Demokratik.

 

— o0o —

 

     Parlemen menjadi ‘Bentuk’ Materialisasi Negara – ide, yang Berkedaulatan (Rakyat), didasarkan KEMANUSIAAN.

 

Mempersiapkan, mengarahkan, melaksanakan Nasional – Kesatuan untuk Tujuan Sosialisme – (di) Dunia.

 

 

 

Selesai.

 

    


KEMANUSIAAN DAN PERTANIAN


KEMANUSIAAN

DAN, PERTANIAN – BUDAYA

(PANGAN)

 

PERSOALAN persoalan tampak, karena Retorika – politik. Terjebak dalam Situasional tetapi mengabaikan Kenyataan (semakin parah).

 

     Itu lah, pertanian, yang terpolitisasi …….

 

— o0o —

 

Bagian ke I (Satu) Keadaan Pertanian

 

     Manusia membutuhkan Pangan. Dikerjakan lah Lahan lahan Pertanian.

 

     Bagaimanakah Politik, yang sedang berlangsung ? Jualan Beras – Pangan ! Diserahkan dalam matarantai panjang Distribusi – Ekonomik.

 

     Jelas, dunk … cadangan Pangan Rakyat, yang terbeli. Lalu, berkurang !

 

     Para Pedagang terus menjual. Karena, Hutang Perbankan (Jaminan atas Pertanahan), yang Berdagang (Nominal, Uang, Perlabaan).

 

     (Wah !)

 

     Dari mana kah uang Rakyat untuk membeli Beras – ‘Pemerintah’ (Jumlah). Sedangkan Penyaluran Uang – Negara ke Masyarakat hanya dari Pengupahan Buruh (= Kelas).

 

     (Laper, deh … !)

 

     Para Petani jadi ‘Pekerja’. Kini ! Di lahan lahan atas nama Dirinya. Manusia !

 

     Jual Gabah ke Rakyat ?!?

 

     Tragis ! Dramatik … dan Terluka ! Tanpa daya Masyarakat !

 

     Bukankah Petani pun Rakyat, yang memang Bertanam Pepadian, … adalah Masyarakat !?!

 

     Pertanian bukan Ekonomi, bergantung Transaksi – Uang – Perlabaan. Melainkan Bibit – Lahan – Pupuk.

 

     Pangan bukan Proses Industrialisasi “Barang”. (Berproduksi lah makanan Anjing di ‘Sonoh’).

 

     Beda dengan Padi (atau Gandum ?).

 

     Mempersiapkan Tanah, dipacul, mengairi, ditanam. Dan, memupuk.

 

     Lalu, bergantung Musim …….

 

— o0o —

 

Bagian ke II (Dua) Politik

 

     Penafsiran Waktu di Perpolitikan tidak sama, terhadap Pertanian, mengelola

 

     1. Masa “Kekuatan Raga” (= re-genetika) ;

 

     2. Tahap tahap Kenaikan

         Demografik

         (Jumlah) Kependudukan – Tempat ;

 

     3. Nasional – Kesatuan Wilayah wilayah Pangan ;

 

     Yang Berakibat (Dialektis)

 

     1. Kekuasaan Rakyat atas Pangan Masyarakat ;

 

     2. Suatu Pemerintahan Sosial

         menyelenggarakan

         Penyaluran Hasil – Pertanian ;

 

     3. Materialisasi “Tani – Budaya” ;

 

     “Manusia Politik” Revolusioner di Masyarakat akan

 

     1. Menyediakan

         Lahan lahan Tanam,

         terlindungi ;

 

        (Aturan aturan Sosial)

 

     2. Historikal – Demokratik, Pertanian

         DIBAGIKAN

         Tanah – Kepemilikan Sosial ;

 

         (Rakyat Yang Miskin)

 

     3. Menentukan

         Wilayah wilayah Pangan

         terpolitisasikan ;

 

        (Nasiona, Kepartaian, Parlemen)

 

— o0o —

 

Bagian ke III (Tiga) Pertanian Budaya

 

     Kebutuhan Pangan Masyarakat, dikerjakan (Manusiawi). Pertanian di Tanah – kepemilikan Sosial, membentuk “Tani – Budaya Pangan”.

 

     Berdasarkan

 

     1. These – Alam (Hubungan Manusia – Alam) ;

 

     2. a. Kepemilikan Sosial (Tanah) ;

         b. Cara cara dan Perbuatan Setempat ;

         c. Kemampuan, Sikap – Tenaga ;

 

     3. Aturan aturan Sosial ;

 

     Bukan lah Industrialisme di atas Pertanahan – Ekonomik. Disalurkan Hasilnya Non – Perdagangan ke Masyarakat.

 

Tanpa Jual – transaktif (Distribusi), karena ‘Tanah Penguasaan’ (Milik, Guna – Imperialistik). harga Penawaran Ekonomis atas Tanah.

 

     Atau, Keadaan – hukum Penguasaan (Setempat). Berhubungan dengan Strata – Politik di Laur Konstitusi – Pemerintahan ‘Negara.

 

     (‘Kekuasaan’ – Bukan karena Negara Kewilayahan – atas “Hasil Pertanahan” di Masyarakat.

 

     Budaya – Ciri ciri Kebangsaan, akan menjadi salahsatu Unsur Pembentuk Peradaban Kemanusiaan – Zaman.

 

     Manusiawi di atas Tanahnya, Bernegara  karena ada Masyarakat. Ideologik dalam Sosial capai Tujuannya.

 

Manusia Sosial – Kemasyarakatan, Berbudaya mengolah Tanahnya, Bertanam untuk Pangan Dunia …… !!!

 

 


LINGKUNGAN INDUSTRIAL MASYARAKAT


LINGKUNGAN INDUSTRIAL MASYARAKAT

 

DI DAERAH daerah Indutsrialism, berlangsung

 

     1. Pemakaian Hasil Industri ;

 

     2. Sosial – Ekonomik Politis ;

 

          a. Pasar ;

          b. – Distribusi dan Perdagangan ;

              – Peredaran Uang (transaktif) ;

              – Barterisasi ;

          c. Harga, Penawaran (Jumlah) ;

 

     3. Kegiatan kegiatan Pekerja

         dan

         Buruh (Produsksi, Usaha) ;

 

     Kebutuhan kebutuhan Pangan bertahap tahap meningkat, karena dinaikkan Permintaan “Tenaga” untuk bekerja. Dan, untuk Keluarga mereka (Penduduk).

 

     Pertambahan Nilai Barang – Ekonomi, yang Terpakai (Demografik), berdasarkan Penawaran Logik – Waktu (Tidak Konsumerisme), disebabkan Aturan aturan Sosial dan Politisasi.

 

     Pemerintahan yang Demokratik di Negara Sosial, membuka Distrik, Wilayah, daerah Ekonomi Industrialisme – Kemasyarakatan.

 

     1. Materialisasi Produksi (Kenegaraan) ;

 

     2. Perdagangan Terbuka

         

         a. Sosial ;

         b. Non – Monopolistik ;

         c. Setempat ;

 

     3. ‘Penggunaan’ Uang Kenegaraan (atau Privatisasi) ;

 

     Komunal komunal (= Masyarakat), didasarkan Kekeluargaan, menerima ‘Pembagian’ rasional – produksi.

 

     1. Wilayah wilayah Politik (Federalisme ?) ;

 

     2. Daerah daerah Pemukiman

         (Baru)

        Kependudukan, Buruh – Pekerja ;

 

     3. Sumber sumber Alam, Tempat Produksi ;

 

     Institusi Pemerintahan, yang berpolitik (= Kerakyatan) menerapkan Revolusioner – Ekonomisasi Sosial.

 

     1. Melindungi Hak hak Sosial – Industrialisme ;

 

     2. Melaksanakan Nasionalisasi Industri (Program Kepartaian di Parlemen) ;

 

     3. Mengadakan Perdagangan Sosialisme – Industri di Dunia ;

 

     Perdagangan Internasional – Kemasyarakatan didasarkan

 

     1. Kehendak Masyarakat masyarakat Setempat di Dunia ;

 

     2. Politik Kelas Pekerja – Buruh (Kemasyarakatan) ;

 

     3. Saling Butuh (Barterisasi) Kependudukan – Masyarakat ;

 

     Terwujud lah Masyarakat Ekonomik Dunia, melalui Industrialisme Nasional Kenegaraan (Ide).

 

     Rasional dan Tanpa Perhitungan Angka Manipulatif.

 

     Meskipun Penyaluran Barang jadi Ekonomis (Jumlah, Distribusi) tidak akan merusakkan Industrialisme – “Lingkungan Sosialis” di Negara. Terbina Politik Sosialisme Ekonomi (Dunia).

 

     1. Perburuhan Internasional ;

 

     2. Nasional – Politis Kepartaian ;

 

     3. Sosial – produksi (Dagang) ;

 

     Dalam Lingkungan Industrial, berlangsung Hubungan Politik antara

 

     1. Buruh ;

 

     2. Masyarakat –

          Lingkungan Industrialisme –

          Nasional ;

 

     3. Aturan aturan Sosial ;

 

Karena, Kausalitas – Dialektika dalam Sosialisme – Industri.

 

 

 

Selesai 

 

 

  

         


ISRAEL – AMERIKA – RUSIA MEM – PETA – KAN


 

ISRAEL – AMERIKA – RUSIA

MEM – PETA – KAN

‘DUNIA’, PERTARUNGAN ISME

 

1.

 

HANYA di Rusia, yang terjadi Revolusi … Mengecoh Nasionalisme – Negara jadi “Partai Bernegara”.

 

     Membelok … Revolusi. Karena, Partai. Lalu, nyaris Kehilangan Rakyat. Menjadi Pertanyaan, Apakah dari Kepartaian lah maka ‘ada’ Revolusi ? Atau, berlangsung suatu Revolusi – Rakyat.

 

     Komunisme (Perbandingan) memisah dari Sosialisme – (di) “Pertengahan” (Engels, F. Jews kah?).

 

     1. Perlahan ;

 

     2. Berbaur “dalam Feodalisme” Borjuis ;

 

     3. Adat, Kebangsaan (= Ras) ;

 

     Namun, materialisasi Produksi, terpolitisasi dalam Pembagiannya, karena Pertanahanjuga di Negara (“Uni”, Sovyet).

 

Berbeda dengan “Israel – Negara” (Sejarah balik). Dalam Kesucian Tanah – Asal “Of The Star” tidak boleh.

 

     1. karena bukan “Tanah” ;

 

     2. Dicetak, uang ;

 

     3. Emas (Bumi) – Perhitungan ;

 

     Sehingga, Revolusi – Masyarakat (Berpartai, Rusia) terhadap Kerajaan (= Negara, karena ada Produski, Tanah).

 

— o0o —

 

2.

 

     “Terlalu” Sosialis, menganggap di Amerika – Negara tidak Bermasyarakat. Hanya Kependudukan – Mukin Eropah (Asal).

 

Mengenali Kemasyarakatan, terlihat Kerja Produksi – Tenaga. Menghasilkan. (Amerika Yang Materialism). Kebutuhan kebutuhan – materialisasi Kemanusiaan, “dibuat”, Politisasi – Ekonomikal. Karena, Logika Materi – Historikal di Negara. Berlaku (diterapkan) dalam Kebangsaan ‘State Of’ – Negeri (= Country).

 

     Tetapi, pembentukan suatu “Kekuasaan” di Amerika, bertentangan dengan “Rakyat Negara” (= Earth, Tempat).

 

— o0o —

 

     Kekuatiran Penduduk Dunia bukan karena Peperangan (kapan kah ?). Namun, karena Kelaparan …

 

Kemanusiaan – “Rasa” tidak memperkenankan Politik dilaksanakan untuk Menghina “Ujudnya”.

 

— o0o —

 

3.

 

     Tiga Negara, yang dimaksudkan, “mem – peta – kan” Dunia, berdasarkan

 

     1. (Isme) ;

 

     2. “Kekuasaan” di Wilayah wilayah ;

 

         a. Pemerintahan ;

         b. Penguasaan (US $, Amerika) ;

         c. ‘Negara’ ;

 

     3. Pertanian ;

 

dalam Hubungan Politik, diatur (Tujuan masing masing).

 

 

 

Selesai.

 

 

 


SIARAN DARURAT – RAKYAT


———————————– 

SIARAN DARURAT – RAKYAT

———————————–

 

PEMBEBASAN

 

Politik di Indonesia (‘Negara)

 

     1. Melalui Pemilihan dan Kepartaian ;

 

     2. Parlemen (dan Dewan Perwakilan Rakyat) ;

 

     3. Kelompok kelompok Nasional ;

 

didasarkan KEDAULATAN RAKYAT (Ajaran), Menuju Masyarakat Sejahtera – Adil dan Makmur.

 

     Adalah, Proses Nasional – Kepartaian PEMBEBASAN terbentuk, melaksanakan Kegiatan kegiatan Demokratik.

 

     Hanya sekedar de-Politisasi menghentikannya. Tidak Berdasarkan Konstitusi dan Per Undang Undangan (Pemilihan).

 

     Hak Berkumpul (= Partai), mengikuti Pemilihan (Umum) di Indonesia.

 

     “Larangan” dengan Kekasaran dan Teror – Fitnah – Tuduh merusakkan Nilai nilai Sosial Perpolitikan Indonesia.

 

     Menghina INDONESIA …….

 

     Mempermalukan Perempuan (dicalonkan – Partai untuk Presiden). Terjadi juga di beberapa Daerah.

 

     Mengancam Demokrasi !

 

     Dipertanyakan kepada Pemerintahan dalam melaksanakan Pemilihan Tahun 2009 nanti.

 

     Siapakah, yang memang Berwewenang Memutuskan Bisa atau Tidak Boleh Partai termasud mengikuti Pemilihan Presiden di Indonesia.

 

     Atau, Pembubaran suatu Partai (di Negara).

 

     Tegas – Pengamanan, agar menyelesaikan sekali-gus Kasus kasus Politik dalam rangka Pemilihan.

 

     Karena, (Para) Pembebas MENYATAKAN

 

     1. Kekasaran (dan Penyerangan !)

          terjadi

          dalam rangka Pemilihan.

 

     2. Pelanggaran Hak Azasi Manusia – Politik.

 

     3. Pidana Teror – Pisikal

          terhadap

          Partai, Keanggotaan, Pemilih.

 

      Berdasarkan Perbedaan Konsep (Tujuan), yang dipolitisasi (Tuduhan !) di Kenegaraan Indonesia.

 

BANYAK KEMUNGKINAN (POLITIS)

 

      Berlangsung campurtangan Asing

 

      1. Pertahanan – Kepentingan Politik

           (Dunia)

           dari Negera lain ;

 

      2. Politisasi Ekonomi – Asing

           MENOLAK

           Nasionalisasi Industrialisme – Pertambangan (‘Negara) ;

 

      3. Kelompok kelompok di Luar

           menghembuskan

           SARA di Pemilihan ;

 

masuk dalam Jaringan jaringan Politik ke Daerah daerah.

 

      Ini, masalah Politik serius. Di Indonesia. Mengarah dalam Ekonomi – Politik suatu Kenegaraan, yang Berkedaulatan Rakyat, menyelenggarakan Pemilihan.

 

      Tidak lah mungkin Politikus politikus Kenegaran, Pemerintahan, Partai partai (Politik) tidak – acuh.

 

      Pemilihan semakin dekat, melaksanakan KESETIAAN POLITIK Demokrasi untuk Rakyat.

 

 

 

SEKIAN. Dan, telah

Disiarkan

untuk Masyarakat (Umum)

 

 

    

 


KEPARTAIAN – RAKYAT (SOSIAL)


KEPARTAIAN RAKYAT DAN SOSIALISME

 

(Pembebas)

 

MEMANG tidak semudah menggoreskan pena ……. Diterjemahkan Sosialisme (untuk) menjadi Partai … Berlangsung Pembicaraan – lama dan mendalam. Lalu, ….. terkesima ! Karena, Hasil Filsafatinya (Logika Materialisasi – Politik).

 

     Tiga Dasar, yang dijadikan (Politik) Berpikir untuk membahas.

 

     1. Kerakyatan ;

 

     2. (Didirikan) Suatu ‘Negara Sosial’ ;

 

         a. Dibentuk kembali (= Reformasi) ;

         b. Revolisoner ;

         c. Melalui Pertarungan Kekuasaan Politik ;

 

     3. Anti – Individualisme Kapitalis ;

 

     Bentuk bentuk dalam Revolusioner (= Dasar)

 

     1. Membebaskan ;

 

     2. Persatuan Nasional – Kerakyatan ;

 

     3. ‘Politik Keadaan’ Sosial ;

 

     Berbeda dengan ‘Ilmiah Teoritik’ , mendirikan Partai dijadikan (= akibat) sekedar ‘Alat’ ………

 

     Sedangkan Dialektika Logika – Filsafati, … tidak ! Berlangsung Kausalitas Materialism – Proses.

 

     Membentuk Partai disebabkan Rakyat Berpolitik.

 

     1. Untuk Kekuasaan Rakyat Yang Miskin ;

 

     2. Kemanusiaan ;

 

     3. Politisasi Sosial – Ekonomi ;

 

     Pembicaraan akan sempurna, terbahas Kemanusiaan Sosial – Politik. Ketika Manusia ‘Abadi’ berada di Buminya (Tanah, Alam). Maka, suatu These – Alam (= Anti kah ?) Manusiawi mengolah Tanahnya.

 

     1. Pertanian – Budaya Pangan ;

 

     2. Berkeluarga (Kedaulatan Sosial di ‘Negara) ;

 

         a. Melanjutkan Kemanusiaan ;

         b. Hak

         c. Tenaga mengerjakan (Produksi) ;

 

     3. Bahan – Industrialisasi – Kebutuhan ;

 

     Adalah, Soisialisme – Politik (Kemanusiaan).

 

     1. Membentuk

 

         a. Masyarakat ;

         b. Nasional – Wilayah wilayah (Federalisme ?) ;l

         c. Pemerintahan ;

 

     2. Tujuan Sosial “Kenegaraan” ;

 

     3. Pelaksanaan Aturan aturan Sosial (= Kerakyatan) ;

 

     Tampak lah suatu ‘Negara’ – Ide, bermasyarakat Sosialisme dari Utopia ke Politis.

 

     Kepartaian – Sosialisme (kriteria kriteria)

 

     1. Kerakyatan ;

 

     2. Kemanusiaan ;

 

         a. Manusia – Politik (Pemerintahan, Negara, Parlemen) ;

         b. Manusia – Sosial (= Masyarakat) ;

         c. Manusia – Ekonomik (Industrialism) ;

 

     3. Keanggotaan

         Masyarakat – Politik dan Kelas Pekerja

         (Buruh) ;

 

     Partai Yang Revolusioner melaksanakan Politik kerakyatan (Nasional)

 

     1. Menghancurkan Kapitalisme di mana pun ;

 

(……. jelas, terjadi Kapitalism ! Tetap omong Sejahtera, Adil – Makmur. Karena, uang, bukan ??? Lalu, dibiarkan Rakyat !

 

     Melalui Birokratisme dan rekayasa Hukum serangkaian Pemilihan telah dicurangi Rakyat Pemilih – Suara.

 

     Membentuk Pemerintahan atas nama Kemerdekaan Negeri …

 

     Membuat Program program Hutang Industrialisme … dari Negara negara Kapitalis.

 

     Menjaminkan (dan eksploitasi) Tanah Kerakyatan – Sumber sumber Alam berdasarkan Imperialisme – Moderen.

 

     Mengapa Tidak Dibagikan Laba Produksi (Keuangan Negara) untuk Masyarakat – Buruh ?

 

Akibat akibat, yang berlangsung

 

     1. Pemiskinan ;

 

     2. Sosialisme – Politik

         membentuk

         suatu Kepartaian (Pembebasan) ;

 

     3. Pengorbanan Rakyat (di ‘Negara’) ;

 

di Perpolitikan suatu Negara ……………..}

 

     2. Menumbangkan Pemerintahan – Individualisme ;

 

     3. Merebut Kekuasaan Rakyat Miskin ;

 

     Taktikal – Konseptual, yang diperbuat melalui

 

     1. Politik mencapai Kekuasaan ;

 

     2. Kerahasiaan Pemimpin, yang

         Tersimpan

         di Kedirian Sosialis – Perempuan ;

 

     3. Re – Evolusi Kemanusiaan (Program program).

 

 

 

Selesai.


INDUSTRI – PRODUKSI KEMASYARAKATAN


INDUSTRI – PRODUKSI KEMASYARAKATAN

 

INDUSTRIAL isme (di Negara)

 

     1. Industri Kenegaraan (= Nasionalisasi) ;

 

     2. Nasional – Industri Pertambangan ;

 

     3. Industri – Produksi Kemasyarakatan ;

 

     Industrialisasi Produksi (di) Masyarakat, adalah, rangkaian Kegiatan kegiatan Industrialisme di Masyarakat masyarakat.

 

     Bertujuan

 

     1. Melaksanakan Unit unit Nasionalisasi Perindustrian (Negara) ;

 

     2. Penyediaan (sendiri) Kebutuhan kebutuhan Masyarakat ;

 

     3. Proses ‘Hasil’ dari Produksi Ekonomi ;

 

     Dalam Industrialism – Kemasyarakatan terjadi

 

     1. Mengolah (= materialisasi) Alam – Setempat ;

 

     2. Memberikan Perlabaan Rasional, yang terbagi

 

         a. untuk Buruh, Pekerja ;

         b. Menaikkan Tabungan Masyarakat (di Perdagangan) ;

         c. Pinjaman untuk usaha usaha Produktif ;

 

     3. Menyerap Kelas Pekerja – Buruh, Tenaga Kerja ;

 

     Wilayah wilayah Ekonomi membentuk Nasional – Produksi Masyarakat, dilaksanakan (= Politik), menghapuskan Pertentangan Kelas kelas Ekonomi buatan Kapitalis (akibat).

 

     Jadi Kemampuan kemampuan Ekonomi – Politis dalam Masyarakat melawan …….

 

     1. Transaksi – Industrial (Rasional) ;

 

     2. Kekuatan Peredaran – Uang (di) Masyarakat (bukan Akumulasi Modal) ;

 

     3. Akuisitas dalam Kerjasama Produksi ;

 

     Berhubungan dengan (Konsep) Pertanian – Budaya Pangan, dipersiapkan.

 

     Kemanusiaan Teknologik (di) Masyarakat membuat Permesinan Olah Tanam, sampai dengan (ubah) bentuk material – guna. Tanpa Ketergantungan Putusan dibuat Kapitalis menghancurkan Kehidupan Sosial – Ekonomik.

 

 

 

Selesai.