Selamat Datang Kawan di WebBlog Para Pembebas

Sekilas DITA INDAH SARI


logo-baru-prd.JPG

 PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK

DITA INDAH SARI
Lahir di Medan, Sumatera Utara – INDONESIA
Tanggal 30 Desember 1972.
Anak kedua dari dua bersaudara
Bapak Adjidar Ascha dan Ibu Magdalena Willy F Firnandus .

Pendidikan dasar mulai dari taman kanak-kanak sampai menengah pertama di selesaikan di Harapan Medan, dan tahun 1988 sampai tahun 1991, menyelesaikan sekolah menengah atas di SMU PSKD I, Jakarta.

Dunia gerakan mulai dikenalinya ketika menjadi mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 1991 dan pada tahun 1992 bergabung dengan Forum Belajar Bebas, sebuah kelompok studi mahasiswa progresif yang membahas persoalan demokrasi dan keadilan sosial.

Berlanjut dari kelompok studi, Dita kemudian menjadi organizer buruh di daerah Tanggerang, Bogor, dan Pluit mulai tahun 1993, sampai pada tahun 1994 bersama kawan-kawan yang lain mendirikan Partai Rakyat Demokratik.

Dalam kongres PPBI yang pertama di Semarang, Oktober 1994, Dita Sari di percaya menjadi Sekretaris Jenderal Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI) satu-satunya organisasi buruh yang pada massa itu melakukan demontrasi menuntut kenaikkan upah, penghidupan yang layak buat kaum buruh dan penggulingan Soeharto. Sampai pada Februari 1995 Dita kemudian dipercayakan menjadi ketua umum PPBI.

Dita Sari begitu namanya sering disingkat kemudian ditangkap ketika sedang memimpin aksi di Tendes, Surabaya bulan Juli 1996. Dalam sebuah pengadilan yang tidak adil, Dita dijatuhkan hukuman delapan tahun penjara beserta beberapa teman-temannya yang lain, dan oleh rezim Soeharto PPBI dianggap sebagai organisasi terlarang.

Pernah ditahan di LP Wanita Malang dan LP Wanita Tanggerang periode tahun 1997-1998, Dita kemudian dibebaskan setelah mendapat Amnesti dari Presiden Habibie. Tahun 1999 Dita kemudian mendeklarasikan Front Nasional Perjuangan Buruh Nasional Indonesia, yang merupakan univikasi antara PPBI dengan serikat-serikat buruh lokal seperti PPBS Surabaya, SBI Bandung dll, dan Dita terpilih sebagai ketuanya.

September 2001, Dita mendapat penghargaan Ramon Magsaysay Award.
Februari 2002 Dita juga mendapat Reebok Human Rights Award, yang kemudian ditolaknya karena Reebok sebagai salah satu perusahaan sepatu besar yang tidak berpihak terhadap kesejahteraan kaum buruh. Dalam periode ini Dita juga tercatat sebagai salah seorang pendiri sebuah lembaga penelitian, yaitu Lembaga Pembebasan Media dan Ilmu Sosial (LPMIS), serta Senjata Kartini sebuah NGO yang bergerak di bidang Perempuan.

Memasuki momentum pemilu 2004, FNPBI, bersama organisasi sektoral lainnya, seperti SBMI, JMD, STN dll, mendirikan Partai Persatuan Oposisi Rakyat (POPOR), dan Dita terpilih sebagai ketua umum, akan tetapi POPOR kemudian gagal memenuhi verifikasi Depkeh HAM.

Maret 2005, dalam kongres luar biasa Dita Indah Sari terpilih sebagai ketua umum Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD), yang semakin mengukuhkan tanggung jawab yang semakin besar dalam mengusung semangat perlawanan … !!!

Komentar ditutup.