MORAL

NEGARA, MORAL – POLITIK

KETEGANGAN Posta Pemilihan amat menekan. Semoga tidak jadi “Keadaan Bingung” Politis. Dikuatirkan salah Terjemahan Konstitusi = Demokratisasi. Ber – “Negara” = Siapakah, yang akan Berkuasa ? Hmmm … Tetap saja Rakyat. He he he … ! Berlanjut, semakin kuatkah Individualist ?

Sejenak tatap mata mata Rakyat. Terkejut, uang yang banyak (tetapi, sedikit untuk “beli uang” Amerika) memilih Figur ke Satu Kursi

Pemilihan Legislator bisa dipahami. Sekian jumlah Anggota DPR RI DPD DPRD I dan II. Yang digantikan juga. Wah ! Buanyaaak, deh (Pembiayaan)

<Jeda. ah …

“Uang dari mana ?” Tanya Rakyat. Kagak ada ke Rakyat, yang lebih dari Pemilih ? Rakyat Yang “Miskin”

Bukan Ketegangan – Rakyat berharap setumpukan uang sambil tersenyum. Atau, mencibirkah ? Tidak ! Namun, seringai … ! Koq ? Karena, uang Rakyat, tuh ! Jelaskah ?

Si Penonton yang Lapar memandang ke bawah (asal suara). Menyalak anjing piaraan lari menggigiti tulang (bukan dada burung) lemparan Penyelenggara Kampanye

Sisa makanan sekotak, dibayar … Tidak dengan Dollar. melainkan Rpiah = “Negara”. INDONESIA. Ditransaksi, ke “Harga (markup = Panitia)

<Titik

Lepas ketegangan semua. Tunggu, jangan ke Bank. Di Luar ? Beristirahatlah. Ke suatu Kesucian = Batin. Merenungi Moral Kedagingan Tubuh (dimakan sendiri ?). Ingin apa lagi, dunk ? Pernahkah ? Nah !

<Tutup

SELESAI






Tinggalkan Balasan